About this video Pil Pahit
Menanggapi diskriminasi di tempat kerja yang terus berlanjut, para penyandang disabilitas Indonesia mengadvokasi undang-undang yang akan memperbaiki kondisi pekerja. *Video termasuk deskripsi audio. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Kinanty Andini
Kinanty Andini is a freelance graphic design and digital artist. She is affiliated with the Indonesia Mental Health Association (IMHA), also known as the Association of Healthy Souls. Read more about Kinanty Andini
Transcript for Pil Pahit
Video dimulai dengan instrumental piano dan video pengendara sepeda, kendaraan, dan pejalan kaki yang bergerak di sebuah jalan di Jakarta, Indonesia. Gedung-gedung tinggi berada di latar belakang.
Fade ke timelapse kendaraan yang bergerak di jalan yang padat lalu lintas dan pepohonan di Jakarta. Gedung-gedung tinggi berada di latar belakang. Sulih suara seorang perempuan Indonesia dalam Bahasa Indonesia mengatakan, “Saya pernah bekerja di suatu perusahaan A di Jakarta. Pada tahun 2012 itu saya di PHK karena ketahuan sebagai penyandang disabilitas mental.”
Dipotong ke orang di balik sulih suara – Nurhayati Ratna Sari Dewi, seorang perempuan Indonesia yang mengenakan jilbab kuning. Dia adalah Ketua Ikatan Kesehatan Jiwa Indonesia (IMHA) atau biasa disebut Perkumpulan Jiwa Sehat Cabang Jakarta. Dewi duduk di luar dan berbicara kepada kamera: “Saya banyak bekerja selama 20 tahun di pekerjaan saya, tetapi waktu itu memang ada pengalaman pahit dimana saya ketahuan bahwa saya menderita Bipolar Disorder lalu saya di PHK.” Beberapa tanaman dan tangga eksterior berada di belakangnya.
Dipotong ke arah Dewi yang sedang bekerja dengan laptop di sebuah kantor. Dia mendongak untuk berbicara dengan seseorang di luar kamera. Sebuah meja panjang dengan barang-barang kantor berada di belakangnya.
Dipotong ke Dewi berbicara di luar, “Saya pada waktu awal kerja itu biasa biasa aja, sebenarnya saya mulai disabilitas mental sekitar 1997 ketika usia saya 18 tahun, setelah itu sih keadaan saya masih ringan jadi tidak perlu ke dokter setiap bulannya.”
Dipotong ke Dewi yang duduk di sebuah meja di luar. Dia mengenakan kacamata dan jilbab ungu. Dia berbicara dengan rekan kerjanya, yang mengenakan jilbab putih di sebelah kiri, dan orang lain yang berada di luar kamera.
Dipotong ke Dewi berbicara, “Saya ketika itu relapse lagi kan 2011 ketika saya mengalami baby blues postpartum. Nah, saya tuh tidak tahu juga bahwasanya penyakit ini nih harus berobat rutin ke dokter.”
Dipotong ke Dewi yang sedang melihat-lihat dokumen dengan seorang rekan kerja di kantor. Rekan kerjanya, yang duduk di sebelah kiri, memeriksa dokumen dengan pena. Sebuah laptop berada di depan Dewi. Dewi mengenakan jilbab krem, dan rekan kerjanya mengenakan jilbab putih. Rekan kerjanya yang lain, mengenakan hijab hitam, duduk di meja panjang di latar belakang. Sulih suara Dewi berlanjut, “Saya relapse lagi 2012. Tapi pada waktu 2011 tuh saya waktu relapse tidak bercerita bahwasanya saya ke psikiater.”
Cut to Dewi berbicara, “Nah, tahun 2012 nya itu pas saya ke psikiater dan diketahui oleh dokter kantor bahwa saya penderita bipolar, Akhirnya stigma berkembang.”
Dipotong ke Dewi berbicara melalui telepon seluler. Dia duduk di kursi biru-putih dan bersandar pada dinding putih.
Dipotong ke Dewi berbicara, “Yaa, saat itu saya ya menerima aja karena saat itu tuh memang stigma akan disabilitas mental atau mental illness kan memang.”
Dipotong ke gambar Dewi dan dua rekan kerjanya yang sedang mengerjakan laptop di sebuah kantor. Seorang perempuan duduk di sebelah kiri, Dewi di tengah, dan seorang laki-laki berkacamata di sebelah kanan. Sulih suara Dewi melanjutkan, “Negatif sekali gitu ya, kalau ketahuan di PHK seperti itu jadi ya sudahlah saya menelan pil pahit itu.”
Dipotong ke Dewi yang sedang melihat-lihat dokumen di kantor. Seorang pria berdiri di belakangnya. Sulih suara Dewi melanjutkan, “Pada saat yang sama, teman saya pun menderita penyakit gagal ginjal.”
Dipotong ke Dewi berbicara, “Dimana saya dan dia itu sama-sama chronic disease. Jadi penyakit yang lama gitu ya, tetapi saya dipecat dan dia enggak. nah, saya tuh merasa disitu kok enggak adil ya?”
Dipotong ke Dewi yang sedang mendengarkan dan mencatat di buku catatan saat seseorang di luar kamera berbicara kepadanya. Dewi duduk di luar bersama orang lain. Dia mengenakan jilbab hitam, kacamata hitam, dan masker wajah multi-warna.
Dipotong ke Dewi berbicara, “Kerugian bagi penyandang disabilitas mental pada saat itu ya kita tidak diberikan akomodasi yang layak misalnya sick leave gitu kan untuk kita beristirahat dan langsung men-judge gitu saja. Kerugiannya yaa stigma dan diskriminasi terhadap kita tuh aduh bener-bener ngga adil banget deh buat kita gitu loh.”
Dipotong ke Dewi dan dua rekan kerjanya yang sedang bekerja dengan laptop di sebuah kantor. Pria itu melepas earbud dan berbicara kepada Dewi dan rekan kerja lainnya. Sulih suara Dewi melanjutkan, “Kita tidak diberikan kesempatan untuk berkarya sehingga yaa itu merugikan kita.”
Dipotong ke Dewi berbicara, “Tapi kan sekarang sudah ada undang undang kan ya nomor 8 tahun 2016 dimana seorang disabilitas tidak boleh diberhentikan karena kedisabilitasan-nya.”
Dipotong ke papan informasi berwarna hijau dan ungu tentang Asosiasi Kesehatan Jiwa Indonesia dalam Bahasa Indonesia. Satu kruk lengan bawah berada di samping tanda informasi.
Dipotong ke Dewi yang berbicara, “Solusinya bagi kita, penyandang disabilitas mental itu kan sebenarnya membutuhkan akomodasi yang layak, penyesuaian-penyesuaian itu. Misalnya kita itu sebagai penyandang disabilitas mental tuh setiap bulannya harus ke psikiater, nah itu dari pihak perusahaan ataupun dari pihak pemerintah yang akan menurunkan PP (peraturan pemerintah) mengenai akomodasi yang layak.”
Dipotong ke gambar close-up tangan seorang perempuan Indonesia saat dia bekerja di laptop. Perempuan itu mengenakan jilbab putih, dan tanaman berada di latar belakang.
Dipotong ke Dewi yang berbicara, “Memperbolehkan kita untuk check-up ke dokter psikiater satu bulan sekali tanpa dihitung cuti. Terus kedua, apabila kita sakit diberikan waktu untuk beristirahat bukannya malah memecat kita.”
Dipotong ke seorang perempuan Indonesia yang mengenakan jilbab dan jas merah muda. Dia berjalan ke jendela, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum. Sebuah rak dengan tanaman berada di latar belakang. Sulih suara Dewi melanjutkan, “Ketiga, diberikan ruang tenang bagi kita apabila kita sudah burn out ataupun pengen istirahat sejenak.”
Dipotong dengan Dewi yang berbicara, “Keempat juga diberikan waktu fleksibel untuk kerja, terkadang kan kita agak susah tidur atau gimana, atau kita diperbolehkan datang telat atau bisa juga dikerjakan dari rumah. kan sekarang kan yang penting kan intinya pekerjaan kita tuh selesai.”
Fade ke dua pekerja kantor yang sedang melihat-lihat dokumen keuangan dengan pena. Di depan mereka, sebuah laptop dan komputer berada di atas meja. Suara seorang perempuan Indonesia dalam Bahasa Indonesia mengatakan, “Saya bekerja di sebuah hotel di bandung sebagai staf akuntansi.” Instrumental piano dari awal video bertransisi ke instrumental piano lainnya.
Dipotong ke orang di balik sulih suara – Lily Puspitasari, seorang perempuan muda Indonesia dengan rambut hitam panjang. Dia mengenakan kacamata hitam, duduk di sebuah ruangan, dan berbicara ke kamera: “Rekan kerja saya tidak membedakan sih, kan belum ketahuan penyakitnya saya itu. Pas itu sih melampirkan surat keterangan dokter pskiater, mangkannya jadi ketahuan.”
Dipotong ke gambar close-up orang Indonesia yang sedang membuka surat di meja kerja. Sebuah laptop, pena, dan buku catatan ada di atas meja.
Dipotong ke Pupsitasari berbicara, “Insiatif sendiri gara-gara saya bolos 2 hari.”
Dipotong ke gambar jarak dekat Puspitasari berbicara, “Yah, sama sekali responnya beda banget sama yang saya harapkan supaya perusahaan maklum atas kenapa saya bolos 2 hari.”
Dipotong ke Puspitasari melangkah melewati pintu cokelat.
Dipotong ke Puspitasari berbicara, “Pada saat itu saya tidak mendapatkan surat peringatan 1, surat peringatan 2, tetapi langsung saya diberhentikan pada esok harinya setelah saya melampirkan surat keterangan dari psikiatri itu.”
Dipotong ke Puspitasari yang duduk di luar dan membolak-balik majalah. Suaranya berlanjut, “Seharusnya menurut saya, harusnya diberi kesempatan untuk menjelaskan mengapa saya melampirkan surat sehat keterangan dari psikiatri itu.”
Dipotong ke Puspitasari yang sedang berbicara.
Dipotong ke seorang perempuan Indonesia yang tampak kesal. Dia mengerutkan kening, dan tangannya berada di pelipisnya. Rambut hitam perempuan itu dengan gaya rambut yang ditarik ke belakang. Dia duduk di meja kerja, dan di sebelah kanannya, sebuah kotak kardus kecil berisi binder dan barang-barang kantor lainnya. Seorang rekan kerja menghampirinya dan menepuk pundaknya untuk menghiburnya.
Cut to Puspitasari berbicara, “Jangan langsung tiba-tiba diberhentikkan. Seharusnya pemerintah juga memberikan akomodasi yang layak supaya saya bisa merasa ada kesempatan kedua untuk bekerja, misalnya ada ruang tenang kalau misalnya tiba-tiba lagi stress, lagi merasa produktivitasnya rendah ada ruang tenang.”
Dipotong ke tanaman, meja, dan dua kursi di balkon gedung pencakar langit. Gedung-gedung pencakar langit lainnya berada di latar belakang.
Cut to Puspitasari berbicara, “Pekerjaan juga bisa dilakukan di rumah.”
Cut to close-up shot tangan orang Indonesia yang sedang mengerjakan laptop di meja kerja. Tumpukan buku ada di atas meja. Voiceover Puspitasari melanjutkan, “Obat obatan psikiatri itu kan kadang kadang bikin susah bangun pagi.”
Cut to Puspitasari mengambil minuman di samping kompor dapur dan meneguknya. Konter-konter dapur penuh dengan bahan masakan dan alat-alat memasak. Suaranya berlanjut, “Jadi lebih baik misalnya biasanya kerjanya jam 8 pulang jam 5, digeser jadi perginya jam 10, pulangnya jam 7 malam ngga papa menurut saya.”
Dipotong ke seorang wanita muda Indonesia yang mengenakan jilbab berwarna krem. Dia sedang bekerja di depan komputer di sebuah kantor bersama dua rekan kerjanya. Semua pekerja mengenakan kemeja biru.
Cut to Puspitasari berbicara, “Harusnya masyarakat juga memperlakukannya jangan beda-beda gitu kan sebagai sesama manusia pasti banyak kekurangannya, jadi lebih baik sih jangan dibedakan karena itu akan membuat orang yang disabilitas mental itu jadinya jadi down.”
Fade ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Copyright – @2022 IMHA. Semua hak dilindungi undang-undang.”
Fade ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Proyek Keadilan Disabilitas dan Dana Hak Disabilitas.” Logo Proyek Keadilan Disabilitas adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video bercerita, dan teks putih bertuliskan “Proyek Keadilan Disabilitas” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.
About this video Perawatan Terjangkau
Jaminan kesehatan tidak selalu terjamin bagi penyandang disabilitas Indonesia. *Video termasuk deskripsi audio. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Sri Sukarni
Sri Sukarni is chairperson of the Indonesia Association of Disabled Women (HWDI)’s branch in the province of West Nusa Tenggara. Read more about Sri Sukarni
Transcript for Perawatan Terjangkau
Video dimulai dengan bidikan udara jalan raya dan tugu biru-putih di kota Mataram di Kabupaten Lombok Barat, Indonesia. Audio mobil yang sedang melaju kencang diputar di latar belakang. Musik piano lembut juga diputar di latar belakang.
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Selama dekade terakhir, Indonesia telah mereformasi sistem asuransi kesehatan nasionalnya untuk memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang sama yang berbunyi, “Namun, penyandang disabilitas Indonesia masih belum memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan.”
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Sustia Rini adalah seorang perempuan penyandang disabilitas berusia 37 tahun dan ibu dari empat anak. Ketika ia pertama kali mengajukan permohonan asuransi kesehatan wajib sebagai pembayar individu, ia dikenakan biaya $8 per bulan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Indonesia.”
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Tanpa penghasilan tetap, dia berjuang untuk melakukan pembayaran.”
Memudar ke Sustia Rini, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab multi-warna, berdiri di sebuah ruangan dan berbicara kepada kamera dalam Bahasa Indonesia: “Pada tahun 2013 saya membuat kartu BPJS Mandiri dengan mengambil [tingkat layanan] Kelas II.” Sebuah tirai merah dan lemari berisi barang-barang kantor berada di belakangnya.
Potongan ke bagian luar kantor kesehatan masyarakat Lombok Barat. Sebuah mobil terparkir di pintu masuk kantor. Sebuah kursi merah dan meja coklat berada di samping pintu masuk. Seorang pria berjalan melintasi kantor.
Terpotong ke sebuah papan nama di bagian luar kantor kesehatan masyarakat yang bertuliskan, “SEKRETARIAT KOPERASI BHAKTI HUSADA, DISTRIK KESEHATAN LOMBOK BARAT,” dalam Bahasa Indonesia. Sebuah poster informasi “Kementerian Kesehatan Republik Indonesia” dalam Bahasa Indonesia berada di sebelah kanan.
Dipotong dengan Rini yang berbicara di dalam ruangan. “Cicilannya 42.000 [rupiah]. Saat itu, saya dan suami serta anak ketiga saya masuk dalam BPJS Mandiri.”
Dipotong dengan teks hitam di layar kuning yang bertuliskan, “Akhirnya, Rini berhenti melakukan pembayaran ke BPJS. Semua orang di keluarganya sehat, jadi dia tidak melihat perlunya asuransi kesehatan. Kemudian salah satu anaknya sakit, dan dia tidak punya cara untuk membayar tagihan rumah sakit.”
Potongan gambar mobil-mobil yang melintas di jalan yang dipenuhi pepohonan di Mataram. Seorang pria duduk di salah satu dari beberapa bangku coklat di trotoar. Beberapa orang berlalu lalang di trotoar. Voiceover Rini melanjutkan, “Pada tahun 2015, anak pertama saya sakit dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.”
Dipotong ke Rini yang sedang berbicara.
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Rini mengajukan permohonan untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis yang dikenal sebagai PBI. Dia ditolak karena beberapa alasan.”
Terpotong Rini berbicara, “Dinas Kesehatan Kota Mataram menjelaskan bahwa untuk tahun 2015, tidak ada program dari PBI di wilayah Kota Mataram.”
Dipotong ke pan shot Rini berjalan menuju pintu masuk depan Laboratorium Kesehatan Daerah. Dia mengenakan jilbab hitam. Beberapa mobil dan motor terparkir di samping laboratorium.
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang mengatakan, “Karena Rini telah berhenti melakukan pembayaran BPJS sebagai pembayar perorangan, dia juga berhutang kepada pemerintah. Dia diberitahu bahwa sampai dia melunasi hutangnya, dia tidak akan memenuhi syarat untuk PBI.”
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Pada bulan Juni, Projek Keadilan Disabilitas mengunjungi Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, di mana Perawat H. Zuljipli, sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, menjelaskan bahwa Rini keliru.”
Musik piano yang lembut bertransisi ke musik piano yang ceria untuk sisa video.
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Dinas Kesehatan telah mengubah kebijakannya pada tahun 2020. Sekarang siapa pun yang membutuhkan perawatan kesehatan gratis dapat menerimanya apakah mereka berhutang atau tidak.”
Dipotong ke sebuah papan nama hitam-coklat di sisi jalan yang sibuk. Papan nama itu bertuliskan, “PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK BARAT / KANTOR KESEHATAN KABUPATEN. LOMBOK BARAT” dalam Bahasa Indonesia.
Potongan ke bagian luar kantor kesehatan masyarakat Lombok Barat. Sebuah kursi merah dan meja coklat berada di pintu masuk. Dua orang duduk di meja resepsionis.
Dipotong ke Nurse H. Zuljipli, seorang pria Indonesia, duduk di sebuah kantor dan berbicara kepada kamera dalam Bahasa Indonesia: “Untuk menjawab pertanyaan Anda tadi terkait program BPJS PBI di Lombok Barat, itu adalah bentuk kehadiran dan dukungan untuk masyarakat Lombok Barat.” Sebuah lemari coklat yang ditumpuk dengan kertas-kertas dan binder berada di latar belakang.
Dipotong menjadi empat pria dan empat wanita yang bertemu di sekitar meja panjang berwarna coklat di kantor kesehatan Lombok Barat. Para perempuan mengenakan jilbab.
Dipotong Zuljipli yang berbicara di kantor, “Tercatat dia punya banyak hutang dan tidak mampu membayarnya, tapi ketika dia sakit, butuh pembiayaan, butuh pelayanan, dia diakomodir. Dia bisa dialihkan [ke layanan kesehatan gratis PBI] statusnya tidak mengharuskan dia membayar hutang dulu, tapi tetap dianggap sebagai hutang [kepada pemerintah].”
Potongan poster informasi “Kementerian Kesehatan Republik Indonesia” dalam Bahasa Indonesia di sebuah kantor kesehatan.
Dipotong ke tanda di bagian luar kantor kesehatan yang bertuliskan, “BIDANG SUMBER DAYA KESEHATAN” dalam Bahasa Indonesia.
Terpisah, Zuljipli berbicara, “Ini ketika peraturan datang untuk mengizinkannya, kami telah melakukannya sejak 2020. Masyarakat yang dulunya mandiri, meskipun memiliki hutang karena tidak membayar premi, kami masih bisa melayani mereka.”
Dipotong dengan Rini berjalan ke arah seorang wanita berjilbab putih di meja resepsionis Dinas Kesehatan Lombok Barat. Dia duduk di sebuah kursi. Seorang pria di meja resepsionis menempati kursi lain.
Memudar ke teks hitam pada layar kuning yang bertuliskan, “Sekarang Rini dan warga Lombok Barat lainnya sedang dalam proses pengajuan untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis.”
Dipotong ke Rini tersenyum dan berbicara ke kamera, “Saya sangat senang karena bisa membuat BPJS PBI tanpa membayar tunggakan.” Rambut hitam Rini ditata dengan gaya rambut ditarik ke belakang.
Memudar ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Copyright – @2022 HWDI. Semua hak cipta dilindungi undang-undang.”
Memudar ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Disability Justice Project dan Disability Rights Fund.” Logo Disability Justice Project adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video storytelling, dan teks putih bertuliskan “Disability Justice Project” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.
About this video Hak untuk Memilih
Warga negara Indonesia penyandang disabilitas secara historis menghadapi banyak hambatan untuk terlibat dalam pemilu. *Video termasuk deskripsi audio. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Mahretta Maha
Mahretta Maha is a disability rights activist living with blindness. She is a program officer at the Association for Disability Access Elections (PPUAD) for the National Coalition of Organizations with Disabilities. Read more about Mahretta Maha
Transcript for Hak untuk Memilih
Video dimulai dengan Ariani Soekanwo, seorang perempuan Indonesia berusia 76 tahun yang memiliki penglihatan rendah. Ibu Ariani adalah pendiri PPUA Disabilitas (Pusat Pemilihan Umum Akses Warga Negara dengan Disabilitas). Beliau mengenakan jilbab oranye. Empat bingkai foto, termasuk penyandang disabilitas di bilik suara, digantung di dinding di belakangnya. Musik berirama cepat dari keyboard dan gitar diputar di latar belakang sepanjang durasi video. Ibu Ariani, berbicara dalam Bahasa Indonesia, berkata, “Nama saya Ariani Soekanwo.”
Muncul Ibu Ariani Soekanwo sedang berbicara di depan mikrofon dalam sebuah pertemuan. Beliau mengenakan jilbab kuning.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo sedang berbicara di di depan di sebuah podium. Dia mengenakan jilbab coklat. Pada podium ada logo perisai bertuliskan, “KOMISI PEMILIHAN UMUM.” Seorang pria dengan satu tangan berada di sebelah kiri, dan pria lain berada di sebelah kanan. Di kiri dan kanan latar belakang terdapat dua potret presiden Indonesia memakai seragam.
Muncul foto Ibu Ariani Soekanwo tersenyum ke arah kamera. Dia memegang sebuah buku. Di sebelah kiri, seorang pria melihat ke kamera. Di sebelah kanan, seorang pria tersenyum ke arah kamera dan memegang buku juga.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara di depan bingkai foto. “Saya sudah terlibat dalam gerakan disabilitas sejak saya masih mahasiswa.”
Muncul gambar logo PPUA di layar putih. Logo PPUA merupakan gambar kotak suara berwarna biru dengan teks biru bertuliskan, “PUSAT PEMILU AKSES DISABILITAS” (Pusat Pemilihan Akses Disabilitas). Empat ikon aksesibilitas berada di bagian bawah kotak.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara di depan bingkai foto. “Pusat Pemilihan Umum Akses Warga Negara Penyandang Cacat (PPUA) didirikan pada tanggal 24 April 2002.”
Muncul foto seorang pria yang berbicara di podium terbuka. Pada podium ada logo perisai bertuliskan, “KOMISI PEMILIHAN UMUM.” Di sebelah kiri, seorang pria melakukan penerjemahan bahasa isyarat. Sebuah spanduk besar di latar belakang bertuliskan, “PUSAT PEMILIHAN UMUM AKSES PENYANDANG CACAT/ [PPUA PENCA
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara, “Sebelum PPUA, undang-undang pemilihan umum sangat diskriminatif terhadap penyandang disabilitas.” Muncul foto seorang perempuan yang menjulurkan tangan kirinya ke atas untuk memasukkan surat suara ke dalam kotak suara putih. Huruf-huruf hitam bertuliskan, “KPU” ada di kotak suara. Seorang perempuan lain berada di latar belakang.
Muncul gambar tangkapan layar sebuah artikel berita. Judul berita tersebut berbunyi, “PKU: Orang Gila tak Punya Hak Pilih.” Di bawah judul berita, tanggal publikasi tertulis, “Selasa 12 Feb 2019 07:03 WIB.” Di sisi kiri tangkapan layar terdapat beberapa ikon media sosial. Artikel tersebut menampilkan gambar seorang pria. Di sebelah kanannya ada tiga orang lainnya.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara, “Dalam menggunakan hak untuk memilih, dipilih, dan menjadi penyelenggara pemilu.”
Muncul gambar seorang pria di kursi roda. Dia di sebelah meja berwarna coklat. Di meja itu, duduk seorang pria dan seorang wanita berjilbab hitam. Sebuah papan nama di atas meja bertuliskan, “KPPS 5.” Seorang pria lain memegang pegangan kursi roda. Beberapa pria lain, memegang kamera foto atau video, berada di latar belakang.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo yang berbicara, “Setelah sekitar 15 tahun perjuangan PPUA, penyandang disabilitas saat ini memiliki hak untuk memilih.”
Muncul foto Ibu Arinai Soekanwo yang sedang berpose untuk berfoto. Dia mengenakan jilbab hijau. Ada empat pria di sebelah kanan dan enam pria di sebelah kiri. Tiga pria di sebelah kanan Soekanwo dan dua pria di sebelah kiri Soekanwo memegang kertas kuning dalam bingkai emas. Di latar belakang, potret presiden Indonesia digantung di dinding.
Muncul gambar zoom-out dari spanduk “KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA” besar yang bertuliskan, “SOSIALISASI PENDIDIKAN PEMILIH DAN SIMULASI PEMILU 2019 BAGI PENYANDANG DISABILITITAS / JAKARTA, 14 FEBRUARI 2019.” Sebuah podium di depan spanduk itu memuat teks yang bertuliskan, “PARTAI POLITIK PERSERTA PEMILU 2019.”
Ibu Ariani melanjutkan, “Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.” Muncul foto dua orang pria di sebuah meja. Ada tumpukan surat suara dengan kotak-kotak biru, merah, hijau, dan kuning di atasnya. Seorang pria di meja itu berdiri. Selembar kertas putih dengan teks hitam yang melekat pada tali putih ada di lehernya. Pria yang berdiri itu memberi pria lain yang tidak berlengan sebuah surat suara dengan garis kuning di bagian atas. Pria tanpa lengan meraih ujung depan surat suara dengan mulutnya. Pria lain berdiri di sebelah kiri pria tanpa lengan. Pria ketiga yang duduk di meja sedang menulis di surat suara, di sisi kanan foto. Sebuah pintu di latar belakang dengan selembar kertas putih di atasnya bertuliskan, “KELUAR.”
Muncul foto close-up seseorang yang membaca surat suara dalam huruf Braille. Beberapa foto dari beberapa kandidat ada di surat suara.
Muncul rekaman seorang yang membantu seorang wanita tunanetra. Wanita itu mencoblos surat suara di kotak suara putih yang bertuliskan “KPU” dalam teks hitam. Wanita itu mengenakan jilbab coklat dan kacamata hitam. Yang membantu mengenakan taqiyah putih. Pria kedua berdiri di dekat yang membantu dan wanita yang buta. Orang-orang ada yang berdiri dan duduk di belakang mereka. Beberapa mengambil foto, dan yang lainnya membuat rekaman video. Kilatan kamera berbunyi di latar belakang.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara, “Mereka juga telah bisa mendapatkan hak untuk dipilih sebagai anggota parlemen dan juga untuk menjadi gubernur dan presiden serta walikota.”
Muncul foto seorang kandidat sedang memegang kruk sedang berkampanye. Logo bulat berwarna merah, biru, dan putih ada di kanan atas kemejanya. Kata-kata dalam teks merah, meniru tampilan perangko, bertuliskan “CALEG DISABILITAS.” Teks biru di sebelah kiri bertuliskan, “Untuk Indonesia Sejahtera,” “No. 4.” “IRPAN RUSTANDI, A. Md / CALEG DPRD PROPINSI JAWA BARAT DAPIL I KOTA BANDUNG SAN CIMAHI.” Teks biru di kiri atas bertuliskan, “No. 9” dengan logo bulat berwarna merah, biru, dan putih di bawahnya. Kata-kata di bawah logo dalam warna hitam dan coklat masing-masing berbunyi, “PARTAI PERINDO” dan “PERSATUAN INDONESIA”. Ikon dan tautan media sosial ada di bagian bawah foto.
Muncul gambar kampanye lainnya dari seorang wanita di kursi roda. Dia mengenakan hijab merah-putih. Jempol kirinya ke atas dan tangan kanannya bertumpu pada pahanya. Teks yang dapat dibaca di bawah logo di sebelah kanan bertuliskan, “No. 7 MEITA ELVI SORAYA SALLY,” “CALEG DPR RI,” “DAPRIL 9 JAWA TENGAH,” dan “[KAB, BREBES, KAB, TEGAL, KOTA TEGAL]” Teks di bagian bawah bertuliskan, “BEJUANG TANPA BATAS MEMBANGUN TOLERANSI/ DALAM KEBERAGAMAN UNTUK INDONESIA RAYA.”
Muncul foto gedung DPR RI berwarna putih dengan teks di bagian luar bertuliskan, “MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT/ DEWAN PERWAKILAN RAKYAT/ DEWAN PERWAKILAN DAERAH.” Mobil-mobil diparkir di dekat gedung. Terdapat kolam dengan air mancur di sisinya berada di sebelah kiri gedung dan tempat parkir.
Muncul gambar tangan yang menjatuhkan surat suara ke dalam kotak suara putih. Bendera Indonesia ada di latar belakang. Di kiri bawah, teks bertuliskan, “PILKADA 2020.” Di kanan bawah terdapat dua gambar orang berseragam dalam bingkai masing-masing. Ada tanda tanya di kepala masing-masing.
Muncul Ibu Arinai Soekanwo berbicara, “Dan terbuka kesempatan untuk menjadi anggota penyelenggara pemilu, anggota Bawaslu dan KPU.” Muncul foto logo “BAWASLU” di sebelah kanan. Tulisan di bagian bawah berbunyi, “Seleksi Calon Anggota KPU dan Bawaslu Masa Jabatan 2022 – 2027.” “Logo KOMISI PEMILIHAN UMUM berbentuk perisai ada di sebelah kiri.
Ibu Ariani Soekanwo melanjutkan, “Jadi sekarang anak muda penyandang disabilitas ingin aktif dalam memahami demokrasi.” Muncul foto tiga pria di kursi roda yang berpose untuk foto. Di belakang tiga pria di kursi roda, tujuh orang lagi berpose untuk foto. Di tengah baris kedua, Ibu Ariani berpose di depan kamera. Dia mengenakan jilbab biru. Muncul Ibu Ariani yang sedang berbicara.
Muncul seorang perempuan berkursi roda. Dia sedang melipat surat suaranya pada sebuah bilik suara. Kotak suara yang setengah terbuka bertuliskan, “KPU,” dalam teks hitam di atas meja bertaplak. Lampu Kamera berkilau di latar belakang. Suara Ibu Arini berlanjut, “Dan dapat berpartisipasi dalam menggunakan hak pilihnya.”
Muncul Ibu Arini Soekanwo berbicara, “Karena ini sekarang sudah terbuka, walaupun belum mudah, tapi pintunya sudah terbuka.”
Muncul close-up seorang pria yang memegang berbagai surat suara dan berpose di depan kamera. Seorang wanita mengenakan jilbab oranye berdiri di belakangnya. Dia memegang teleponnya. Sebuah kotak suara “KPU” diletakkan di atas meja di sebelah kanan. Beberapa orang duduk, dan yang lainnya berjalan-jalan di latar belakang.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara.
Potongan gambar seorang pria yang berpose untuk foto di tempat pemungutan suara. Dia mengangkat jari kelingking kirinya ke atas; ujung jarinya tertutup tinta hitam. Seorang pria lain dengan disabilitas fisik memegang surat suara di belakangnya. Seorang pria ketiga menggerakkan pria penyandang disabilitas fisik ke kanan. Beberapa orang berdiri, dan yang lainnya duduk di meja di latar belakang atau mengambil foto atau merekam video. Lampu kamera berkedip dan suara klik di latar belakang.
Kemudian Ibu Ariani Soekanwo berbicara, “Jadi kita harus berani masuk untuk terlibat sebagai penyelenggara pemilu dan anggota parlemen.”
Muncul gambar seorang wanita di kursi roda sedang memberikan suara di bilik suara. Seorang wanita lain di kursi roda di sebelah kanan memberikan suara. Di depan bilik suara, ada beberapa orang berdiri dan ada yang duduk.
Muncul grafik kotak suara abu-abu di layar putih. Tanda centang merah berada di tengah-tengah ikon orang di kursi roda.
Muncul foto seorang pria yang duduk di tempat pemungutan suara. Tiga kotak suara putih di depannya masing-masing bertuliskan, “KPU” dalam teks hitam.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara, “Maka para pejabat dan calon, mereka yang akan memegang kekuasaan, akan memperhatikan pemenuhan hak-hak disabilitas.”
Muncul bagian luar gedung DPR. Dua gedung tinggi berada di sebelah kanannya. Sebuah gedung hijau rendah dan bundar berada di tengah. Anak tangga mengarah ke bagian gedung hijau itu.
Muncul Ibu Ariani Soekanwo berbicara, “Buatlah program dan buatlah anggaran untuk kebutuhan disabilitas.”
Muncul foto lembaran biru di trotoar bertuliskan, “#MenujuDisabilitasMerdeka.” Ikon seseorang di kursi roda, dua pria dan satu wanita, bergandengan tangan.
Muncul foto close-up selembar kertas putih yang ditempelkan pada kemeja kotak-kotak oranye, putih, dan hitam. Teks hitam di atas kertas putih bertuliskan, “MEMBANGUN INDONESIA INKLUSIF DISABILITAS.”
Muncul seorang pria tunanetra, mengenakan kacamata hitam dan menggunakan tongkat putih di sebuah meja. Meja penuh dengan tumpukan surat suara. Pria itu berada di tempat pemungutan suara. Seorang yang membantunya ada di sebelah kanan memegang punggung pria itu. Yang membantu itu juga memegang tongkat putih. Seorang wanita yang mengenakan jilbab krem duduk di meja.
Muncul seorang pria penyandang disabilitas fisik yang menggunakan kruk saat ia berjalan di tempat pemungutan suara di dekat beberapa kotak suara yang diletakkan di atas meja. Beberapa orang duduk di meja hijau, beberapa berdiri, dan yang lainnya mengambil foto atau rekaman video. Kilatan kamera berbunyi di latar belakang.
Muncul bidikan close-up pria lain dengan disabilitas fisik yang bergerak perlahan menuju kotak suara. Kamera berkedip di latar belakang.
Muncul Ibu Arinai Soekanwo yang berbicara, “Jika kita tidak menunjukkan eksistensi kita, maka hak-hak kita akan diabaikan.”
About this video Di Luar Kendali Mereka
Eka Setiawan, seorang aktivis tunanetra, mengatakan bahwa para advokat harus terus menuntut lebih banyak kesempatan profesi bagi orang Indonesia yang buta dan low vision. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Mahretta Maha
Mahretta Maha is a disability rights activist living with blindness. She is a program officer at the Association for Disability Access Elections (PPUAD) for the National Coalition of Organizations with Disabilities. Read more about Mahretta Maha
Transcript for Di Luar Kendali Mereka
Video dimulai dengan musik piano yang lambat.
Perlahan muncul Sadiah, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab hijau, duduk di sofa abu-abu dan berbicara ke kamera dalam Bahasa Indonesia: “Perkenalkan nama saya Sadiah, saya seorang disabilitas netra.”
Muncul gambar mundur Sadiah yang berlutut dan memijat kaki seorang klien yang berbaring di atas kasur abu-abu di lantai.
Muncul gambar mundur Sadiah memijat punggung klien, seorang pria Indonesia. Sulih suara Sadiah berlanjut, “Saya adalah ibu rumah tangga dan berprofesi sebagai Masseur atau juru pijat. Saya hanya memiliki tempat yang sangat sederhana.”
Muncul gambar mundur papan nama dalam Bahasa Indonesia mengiklankan Panti Pijat Tunanetra Rohim.
Muncul Sadiah yang duduk di dalam ruangan, “Sebelum pandemi saja saya sudah mengalami penurunan pendapatan.”
Muncul gambar papan dalam Bahasa Indonesia mengiklankan Panti Pijat Tunanetra Rohim. Sulih suara Sadiah berlanjut, “Misalnya kalo dulu bisa dalam satu hari saya mijat tiga atau empat pasien, untuk sekarang ini dalam satu hari satu saja atau satu minggu dapat tiga orang pasien saja itu sudah sangat beruntung.”
Muncul Sadiah berbicara, “Apalagi disaat pandemi kemarin dalam dua tahun kebelakang kemarin.”
Muncul matahari terbit di atas jalan perdagangan yang sepi. Beberapa burung terbang melintasi jalan dan hinggap di trotoar sebelah kiri.
Muncul Sadiah berbicara, “Kami para Masseur khususnya saya benar benar tidak ada pasien yang mau berkunjung ataupun memakai jasa saya atau jasa kami para massier tunanetra.”
Muncul close-up seorang pria Indonesia yang menekan tombol pada speaker besar yang diikatkan di dadanya sementara sebuah lagu diputar dari speaker. Dia berdiri di sebuah ruangan.
Muncul Sutoro, pria dengan speaker, bernyanyi dengan mikrofon yang kabelnya melingkari lehernya. Sutoro berambut abu-abu dan mengenakan kemeja merah dan emas. Dalam Bahasa Indonesia, suaranya berkata, “Nama Saya Sutoro.”
Muncul papan nama biru-putih dalam Bahasa Indonesia yang mengiklankan Panti Pijat Tunanetra Binaan Suku Dinas Sosial Jakarta Barat. Speaker Sutoro memainkan sebuah lagu di latar belakang.
Muncul Sutoro yang sedang memijat kaki klien yang berbaring di atas meja pijat warna warni. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Dan profesi saya adalah juru pijat atau masseur.” Musik dari speaker Sutoro perlahan berganti menjadi musik piano yang emosional.
Muncul Sutoro yang berdiri di depan dinding putih dan berbicara ke kamera: “Namun karena situasi dan kondisi.”
Muncul Sutoro berkacamata hitam dan menggunakan tongkat putih berjalan di tepi jalan yang sibuk. Sebuah speaker diikatkan di dadanya, dan beberapa pengendara sepeda motor melaju di jalan. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Saya akhirnya ganti profesi atau pindah profesi.”
Muncul Sutoro yang berdiri di dalam ruangan, “Yaitu kalo pagi saya pergi ke pasar untuk menjalankan aktivitas untuk menjadi seniman jalanan atau ngamen.”
Muncul Sutoro bernyanyi di mikrofonnya sambil menyesuaikan speakernya di sebuah ruangan.
Muncul foto seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab hijau dan membawa banyak kantong kerupuk di sisi jalan. Seorang anak laki-laki Indonesia, mengenakan penutup topi baseball, berjalan bersamanya di sebelah kiri. Mobil-mobil dan pengendara sepeda motor melintas di jalan. Suara sulih Sutoro melanjutkan, “Kalo sore hari saya berjualan kerupuk.”
Muncul gambar mundur Sutoro memijat kaki klien di atas meja pijat warna warni. Suaranya berlanjut, “Keliling karena profesi pijat tidak mencukupi kebutuhan sehari hari.”
Muncul seorang pemijat yang merupakan seorang wanita Indonesia berambut hitam yang diikat ke belakang. Dia memijat kaki seorang wanita kulit putih di atas meja pijat mewah yang menghadap ke laut. Klien tersenyum saat menerima pijatannya.
Muncul gambar close-up seorang pemijat yang sedang memijat kaki klien. Sutoro melanjutkan, “Karena sekarang sudah banyak sekali orang – orang liat pada terjun memijat.”
Muncul Sutoro, “Dan sekarang banyak sekali tempat – tempat pijat yang tempatnya lebih mewah karena dia punya uang.”
Muncul wanita Indonesia yang sedang memijat punggung klien lain di atas meja pijat. Kliennya adalah seorang wanita kulit putih yang mengenakan bikini. Matahari terbenam di atas pepohonan dan sebuah bungalow di latar belakang. Sutoro melanjutkan, “Sehingga profesi pijat dari tunanetra itu tersisih.”
Muncul gambar mundur sebuah pasar yang sibuk di Jakarta dan pengendara sepeda motor yang parkir di dekat kios-kios pasar. Dua gedung tinggi kembar berada di latar belakang. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Maka dengan terpaksa saya beralih profesi.”
Muncul Sutoro berbicara, “Menjadi seniman jalanan itu sebenarnya tantangannya cukup berat.”
Muncul beberapa pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang melewati seorang pengamen, yang buta, di pasar yang sibuk. Pengamen itu, seorang pria Indonesia dengan rambut pendek beruban, memegang tongkat putih. Sebuah mikrofon yang kabelnya melingkari lehernya, dan sebuah speaker diikatkan di dadanya. Pengendara sepeda motor membunyikan klakson dan pejalan kaki berbicara di latar belakang. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Kalo di pasar kenndalanya yaitu yang jelas lalu lalang motor.”
Muncul Sutoro yang berbicara, “Jadi kita harus bener hati hati karena lalu lalang motor itu cukup banyak sekali yang mondar mandir.”
Muncul sang pengamen, yang buta, di pasar yang ramai.
Muncul penjual kerupuk, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab krem, duduk di pinggir jalan yang ramai dengan banyak kantong kerupuk. Sang penjual makan dari salah satu kantong kerupuk. Seorang gadis Indonesia berambut hitam panjang duduk di sebelah wanita tersebut sementara seorang pengendara sepeda dan pengendara sepeda motor melintas di jalan.
Muncul penjual kerupuk lainnya, seorang wanita Indonesia dengan rambut hitam yang diikat ke belakang, duduk di sisi jalan yang sibuk. Beberapa kantong kerupuk tergantung pada tongkat coklat di depannya, dan beberapa pengendara sepeda motor melintas di jalan. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Kalau jualan kerupuk sekarang tidak hanya tunanetra yang jualan, sekarang orang liat pun jualan.”
Muncul penjual kerupuk kedua yang sedang duduk di pinggir jalan yang ramai di malam hari. Mobil-mobil dan pengendara sepeda motor lalu lalang di jalan. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Jadi memang semakin sepi bahkan saya sering buang karena tidak terjual.”
Muncul Sutoro yang berbicara, “Sehingga melempem kerupuk itu akhirnya terbuang.”
Muncul seorang pengamen, seorang pria Indonesia berambut hitam pendek, bernyanyi di mikrofon dari tepi jalan pada malam hari dan memegang tongkat putih. Pengendara sepeda motor melintas di jalan, dan suara-suara lalu lintas menjadi latar belakangnya.
Muncul Eka Setiawan, seorang pria paruh baya Indonesia berambut hitam pendek. Setiawan mengenakan kemeja abu-abu, duduk di depan tembok kuning, dan berbicara kepada kamera dalam Bahasa Indonesia: “Saya Eka Setiawan.”
Muncul Setiawan mengenakan topi sholat putih, headphone kecil putih, dan berbicara melalui pengeras suara di sebuah pertemuan besar. Sebagian besar wanita pada pertemuan tersebut mengenakan jilbab hitam, dan sebagian besar pria berambut hitam pendek. Seorang wanita berambut hitam, dan seorang pria mengenakan topi sholat biru-putih. Semua peserta rapat memakai masker wajah. Sulih suara Setiawan berlanjut, “Saya seorang aktifis tunanetra yang memperjuangkan hak – hak penyandang disabilitas.”
Muncul Setiawan yang berdiri di depan tembok kuning, “Sejak Indonesia meratifikasi UN-CRPD di tahun 2011 dengan Undang – undang 19 tahun 2011 yang kemudian domestisasi Undang – undang penyandang disabilitas, Indonesia menerbitkan undang – undang disabilitas pada tahun 2016.”
Muncul gambar layar teks hitam di layar putih bertuliskan, “PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA | UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYANDANG DISABILITAS,” dalam Bahasa Indonesia.
Muncul Setiawan yang berbicara, “Sampai dengan hari ini kondisi yang ada masih menempatkan penyandang disabilitas menjadi.”
Muncul seorang pengamen, seorang pria Indonesia yang mengenakan topi baseball hitam. Pria itu bernyanyi dengan mikrofon yang kabelnya melingkar di lehernya, dan sebuah speaker yang diikatkan di dadanya. Dia berjalan dari mobil ke mobil di jalan yang sibuk, dan suara lalu lintas menjadi latar belakangnya. Setiawan melanjutkan, “Khususnya tunanetra menjadi yang sulit dalam menjalankan profesinya.”
Muncul Sadiah yang sedang memijat kaki seorang klien di atas kasur abu-abu.
Muncul Setiawan yang berbicara, “Dan kebetulan sebagian besar tunanetra masih berprofesi sebagai juru pijat.”
Muncul Setiawan berbicara, “Di situasi saat ini profesi juru pijat bagi tunanetra kelihatannya sudah bukan sebagai profesi yang menjanjikan.”
Muncul Sutoro memijat kaki klien di atas meja pijat warna-warni.
Muncul gambar mundur dari handuk putih di atas meja pijat mewah di sebuah panti pijat. Lampu-lampu hijau kecil berjajar di salah satu bagian lantai di depan meja pijat.
Muncul Setiawan berbicara, “Profesi juru pijat ini sudah digeluti oleh banyak kalangan non disabilitas yang tentunya kemasannya bisa jauh lebih baik dan dengan modal yang jauh lebih kuat sehingga menempatkan teman – teman disabilitas tunanetra menjadi tersisihkan dalam profesi pijatnya.”
Mucul seorang pengamen, seorang pria Indonesia dengan rambut hitam dengan gaya rambut ditarik ke belakang, bernyanyi di mikrofon di jalan yang sibuk di sebuah pasar. Pejalan kaki dan pengendara sepeda motor melewatinya, dan musik diputar dari pengeras suara.
Muncul seorang wanita Indonesia, mengenakan jilbab krem, berhenti untuk memberikan uang kepada seorang pengamen di pasar yang sibuk. Sang pengamen, seorang pria Indonesia, mengenakan topi biru dan menggunakan tongkat putih. Seorang pengendara sepeda motor melintas di dekat pengamen, dan beberapa orang di pasar mengenakan masker wajah. Sulih suara Setiawan berbicara, “Mau tidak mau teman – teman tunanetra alih profesi.”
Muncul Setiawan yang berbicara, “Saya yakin betul teman – teman tunanetra memahami pekerjaan – pekerjaan yang mereka lakukan ini adalah pekerjaan yang beresiko.”
Muncul seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab coklat dan memegang tongkat putih di jalan yang sibuk. Dia bernyanyi pada mikrofon yang terpasang di lehernya, dan sebuah speaker diikatkan ke dadanya. Sulih suara Setiawan berlanjut, “Tetapi tidaklah banyak pilihan profesi yang bisa dilakukan oleh teman – teman tunanetra. Bahwa perlu terus dilakukan advokasi.”
Muncul Setiawan yang berbicara, “Harapan yang bisa disampaikan kesemua pihak bahwa kesempatan buat teman – teman penyandang disabilitas atau tunanetra sebagai juru pijat memang harus dibuka seluas luasnya.”
Muncul seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab putih. Dia menghentikan seorang pengamen, seorang pria Indonesia berambut hitam dengan gaya rambut ditarik ke belakang, untuk memasukkan uang ke dalam tasnya di sebuah pasar yang ramai. Musik diputar dari speakernya.
Muncul Setiawan berbicara, “Dan sebetulnya bisa dikelola lebih baik misalnya di dunia pariwisata, dunia perhotelan.”
Muncul gambar udara dari sebuah hotel mewah di Indonesia. Sebuah kolam besar dan pepohonan mengelilingi hotel.
Muncul Setiawan berbicara, “Sehingga tunanetra lebih memiliki peluang yang lebih baik di profesinya sebagai juru pijat.”
Memudar ke teks hitam dengan garis tepi kuning di layar hitam yang bertuliskan, “Copyright – @2022 PPUA Disabilitas. Semua hak cipta dilindungi undang-undang.”
Memudar ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Proyek Keadilan Disabilitas dan Dana Hak Disabilitas.” Logo Proyek Keadilan Disabilitas adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video bercerita, dan tulisan teks putih yang berarti “Proyek Keadilan Disabilitas” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.
About this video Cara Belajar yang Berbeda
Penyandang Autisme di Indonesia Menempuh Jalan Sendiri Menuju Pendidikan dan Pekerjaan Kesempatan kerja terbatas bagi penyandang autisme di Indonesia. Tantangan muncul karena perbedaan komunikasi antara penyandang neurodiversitas dan neurotipikal – dan karena kurangnya penerimaan
Filmmaker: Naufal Asy-Syaddad
Naufal Asy-Syaddad is a disability rights activist with autism and chairperson of Yogasmara Foundation's youth group. Read more about Naufal Asy-Syaddad
Transcript for Cara Belajar yang Berbeda
Video dimulai dengan musik piano lembut dan layar animasi hitam, merah, putih, dan biru. Teks merah pada layar biru muda bertuliskan, “Naufal Asy-Syaddad.” Di bawahnya, teks putih bertuliskan, “DJP fellow from Indonesia.” Sulih suara Naufal Asy-Syaddad mengatakan, “Halo teman-teman. Perkenalkan, nama saya Naufal Asy Syaddad, DJP fellow dari Indonesia.”
Dipotong ke layar animasi hitam, putih, dan merah melingkar. Teks putih pada layar biru laut mengatakan, “Tema video ini.” Suara Asy-Syaddad melanjutkan, “Saya akan mengangkat tema kendala dalam mendapatkan kesempatan kerja bagi penyandang autisme.”
Dipotong ke layar animasi hitam, merah, putih, dan biru. Teks putih pada layar biru bertuliskan, “Kendala dalam mendapatkan kesempatan kerja bagi penyandang autisme.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Sebagai penyandang disabilitas autisme, mereka masih banyak mengalami kesalahpahaman.”
Dipotong ke layar animasi hitam, putih, dan merah melingkar. Teks putih pada layar biru muda bertuliskan, “Narasumber dalam video ini.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Sehingga ketika mereka sudah dewasa dan tiba waktunya untuk mencari pekerjaan, hal ini memiliki kesulitan tersendiri.”
Dipotong ke layar animasi merah dan merah muda melingkar. Teks merah pada layar putih bertuliskan, “M Atarriq Husein / Musisi penyandang autisme.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Kita memiliki 2 orang narasumber, yaitu Husein dan Faisal.”
Dipotong ke layar animasi merah dan merah muda melingkar. Teks merah pada layar putih bertuliskan, “Muhammad Faisal Hakim / Pengusaha telur asin penyandang autisme.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Mereka akan menceritakan bagaimana upaya-upaya mereka dalam mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan.”
Dipotong ke pan shot M. Attariq Husein, seorang pria dan musisi Indonesia penyandang autisme, mengenakan kemeja merah dan berbicara dengan para siswa di ruang kelas musik. Di latar belakang, seorang anak laki-laki Indonesia mengenakan kacamata dan kemeja hitam memainkan keyboard. Seorang pria Indonesia yang mengenakan masker wajah biru, kacamata, dan kemeja bermotif mustard, memperhatikan siswa yang sedang bermain keyboard. Sebuah papan tulis dan dinding plum berada di belakang mereka. Di sebelah kanan, seorang pria Indonesia duduk di meja, mengenakan masker wajah putih dan kemeja bermotif hijau-merah.
Dipotong ke dengan Husein yang berbicara dengan seorang gadis muda Indonesia yang mengenakan jilbab putih. Pria Indonesia yang mengenakan masker wajah biru dan kemeja bermotif mustard bergabung dalam percakapan mereka. Di latar belakang, seorang anak laki-laki Indonesia duduk di tanah di sebelah kiri, dan anak laki-laki lain membuka pintu kelas.
Dipotong ke Husein, mengenakan kemeja hitam-merah dengan tulisan putih dan gambar orang di atasnya, duduk di sofa dua tempat duduk berwarna coklat di sebuah ruangan. Dinding krem berada di latar belakang. Asy-Syaddad, seorang pemuda Indonesia yang mengenakan kacamata, celana putih, dan kemeja hijau muda, bergabung dengan Husein di sofa. Asy-Syaddad berbicara ke kamera, “Saat ini saya sedang bersama Muhammad Atarriq Husein. Nah, dia ini adalah penyandang diasabilitas autisme yang lahir pada tanggal 26 Januari tahun 2000. Jadi usianya dia itu sudah 22 tahun. Nah, dia itu memiliki bakat di bidang musik.”
Dipotong ke Husein bernyanyi ke dalam mikrofon di ruang kelas musik. Sebuah papan tulis, dudukan mikrofon, amplifier, speaker, dan barang-barang kelas lainnya berada di latar belakang. Voiceover Asy-Syaddad berlanjut, “Dan dia itu telah memiliki banyak prestasi di bidang musik.”
Dipotong ke Husein dan Asy-Syaddad yang duduk di sofa dua tempat duduk berwarna coklat. Husein berbicara ke kamera, “Ada. pasti itu ya, kendalanya itu. Bukan hanya kuliah jurusan musik. Gue aja yang gak tahu… apa ya… kan di sekolahku kan nggak ada diajari not balok, semuanya itu dari otodidak. Semuanya itu dari otodidak, jadi benar-benar sesuai kemampuannya, dipelajari sendiri-sendiri itu. Kalau di perguruan tinggi yang asli itu, saya diceritain sama guru saya Pak Harsono, ‘Lu kuliah di situ gak bakal mampu.’” Musik piano yang lembut memudar.
Dipotong ke Husein yang sedang menabuh drum di atas drum set hitam di sudut ruang kelas musik, di depan dinding plum. Sebuah gitar bass, amplifier, dan speaker hitam berada di sebelah kanan. Seseorang bernyanyi dengan musik di luar kamera. Husein melanjutkan suaranya, “‘Gak bakal mampunya gimana, gak bakal mampu. Lu akan ditanyain rumus, ditanyain not balok, ditanyain tulisan, yang gambar musik,’ sebenarnya kita gak mempelajari itu. Kita gak ada fasilitasnya seperti itu, baik di sekolah.”
Dipotong ke Husein dan Asy-Syaddad yang duduk di sofa coklat. Husein berkata, “Umum kayak belajar itu, balik lagi ke SMP dulu, kalo belajar kuliahnya itu balik lagi ke situ, lha saya gak mau. Ada kendalanya juga sih, nah kan untuk kuliahnya sendiri kalau untuk sekarang ini ya, untuk sekarang ini ABK baru masuk yang tuna rungu, tuna netra, sama tuna daksa. Yang tidak peduli fisiknya seperti apa yang penting otak mereka [non-disabilitas]. Sementara mereka yang memiliki autisme dan disabilitas psikologis, meskipun memiliki tubuh [non-disabilitas], seperti Anda, mereka memiliki [kebutuhan belajar] yang berbeda.” Musik piano yang lembut diputar lagi.
Dipotong ke Husein yang sedang bermain drum di ruang kelas musik. Voiceover Husein berlanjut, “Ho di bawah (rata-rata) itu lho… itu yg sangat disayangkan sama, itu lho di Indonesia, itu aja sih. Ada kendalanya sendiri makanya saya nggak mau lagi berkuliah.”
Dipotong ke Husein dan Asy-Syaddad yang duduk di sofa coklat. Asy-Syaddad, menoleh ke Husein, bertanya “Berkuliah di bidang musik ya?” Husein menjawab, “Nggak. Ya karena. Ada kendala. Bukan kendala sih, lebih tepatnya saya nggak tahu apa itu not balok, itu saya gak tahu apa itu itu. Kan pasti ditanyain juga itu, yang namanya rumus, misalkan ke matematika itu juga ditanyain juga itu.”
Dipotong ke Muhammad Faisal Hakim, seorang pria dan pengusaha Indonesia yang menyandang autisme, berjongkok di lantai ubin, mengelap telur rebus dalam mangkuk plastik ungu dengan kain kuning. Dia mengenakan kemeja biru kehijauan, celemek merah-putih, sarung tangan plastik transparan di tangan kanannya, dan celana hitam. Mangkuk plastik biru muda berada di sebelah kiri mangkuk plastik ungu, dan bak plastik dengan penutup merah dan label putih, berisi cairan dan telur rebus, berada di sebelah kanan. Di latar belakang, sebuah telepon dan tas hitam tergeletak di atas sofa abu-abu dan coklat.
Dipotong ke Faisal, ibunya, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab merah dan kacamata, duduk di atas pelatih putih-coklat bersama Asy-Syaddad. Faisal duduk di sebelah kiri dan mengenakan kemeja berwarna biru kehijauan dengan desain dan teks bertuliskan, “Thailand,” di tengahnya. Ibu Faisal duduk di tengah dan Asy-Syaddad duduk di sebelah kanan, mengenakan kemeja hijau muda dan kacamata hitam. Asy-Syaddad berkata ke kamera, “Saat ini saya bersama dengan Budhe Sri Murni dan Faisal. Nah Faisal ini adalah penyandang autisme juga yang telah berusia 25 tahun ya?” Ibu Faisal berkata, “Enam.” Asy-Syaddad melanjutkan, “26 tahun ya, dia telah berusia 26 tahun, sekarang dia penyandang autisme yang berwirausaha.”
Dipotong ke Faisal yang berjongkok di lantai ubin. Ia selesai membersihkan telur rebus dalam mangkuk plastik ungu dengan kain kuning. Ia memindahkan telur itu ke mangkuk plastik biru muda di sebelah kiri. Suara ibu Faisal mengatakan, “Untuk kendalanya tetap banyak Naufal ya, di sana mungkin dia tidak bisa mengikuti instruksi dari kepala sekolahnya.”
Dipotong ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad duduk di dalam kamar. Ibu Faisal berbicara kepada Asy-Syaddad dengan gerakan tangan, “Harus bagaimana, harus setelah ini, ini, ini, ini, Faisal tidak punya ide, seperti itu.”
Dipotong ke memperbesar dari Faisal yang mengenakan sarung tangan plastik dan menggiling siung bawang putih menggunakan lesung dan alu di atas lantai berubin putih. Sebuah bak mandi putih berada di sebelah kiri, dan dua handuk dapur berwarna-warni tergeletak di sebelah kanan. Sulih suara ibu Faisal berlanjut, “Tetapi, saya sebagai orang tua ketika Faisal itu sebelum masuk ke sana pun kan saya sudah, apa ya.”
Dipotong ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Mengusahakan di rumah itu ada sesuatu yang harus dia kerjakan, yaitu membuat telur asin.”
Dipotong ke bidikan close-up Faisal yang terus membersihkan telur rebus. Dia menempatkan telur lain di mangkuk plastik biru muda.
Dipotong ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Pernah. Dulu pernah daftar ke bandeng juwono ya, itu atas saran Bu Ema, Emanuella,
kenal kan? Itu beliau di sana.”
Dipotong ke bidikan close-up Faisal yang selesai menggosok telur terakhir dan berbalik untuk mengambil lesung dan alu di sebelah kiri. Satu mangkuk beras dan satu mangkuk lagi berisi cabai merah, siung bawang putih, dan jempol jahe berada di antara lesung dan mangkuk plastik. Suara ibu Faisal berlanjut, “Dan Faisal juga sudah mengikuti tes-tes, tes psikologi, tes ini.”
Dipotong ke Faisal, Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Ternyata dari pihak sana pun ada beberapa yang terima, tetapi ada bagian tertentu yang tidak mau
terima.”
Dipotong ke Faisal menyendok cabe yang sudah dihancurkan keluar dari mortalnya dengan sendok sayur berwarna merah muda dan krem dan mencampurkannya ke dalam bak plastik di sebelah kiri. Bak itu berisi cairan, dan sebuah label putih juga ada di atasnya. Voiceover ibu Faisal berlanjut, “Karena apa, Faisal sudah anaknya yang sudah mulai tak teratur di misalnya untuk sholat. Kalo bekerja di erlina itu kan di bandeng juwono gak bisa kan untuk kamu sholat harus tepat waktu.”
Dipotong keFaisal yang dibungkus kantong plastik, direndam di dalam bak plastik dengan label putih. Sulih suara ibu Faisal berlanjut, “Padahal di sini sedang banyak yg membeli, seperti itu. Takutnya nanti Faisal itu di sana ketemu orang banyak, dengan suara-suara orang-orang yang keluar, yang mungkin Faisal belum… belum.”
Potongan ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Mudeng dan nanti terbawa akhirnya dari pihak sana, sepertinya Faisal bekerja di rumah saja. Alhamdulillah saya senang sekali.” Musik piano lembut memudar.
Dipotong ke Faisal duduk bersila di lantai, memegang karton plastik berisi telur yang sudah jadi. Sebuah label pada karton bertuliskan, “Mas Faizal,” dalam Bahasa Indonesia. Sebuah bak plastik dengan tutup merah berada di sebelah kanan. Pengisi suara Asy-Syaddad mengatakan, “Jadi, kesimpulannya adalah individu autisme mengalami kesulitan mendapatkan kesempatan kerja dikarenakan kondisi khusus mereka, yaitu perbedaan cara komunikasi dan sosialisasi.” Musik band dimainkan dan seseorang bernyanyi bersama di luar kamera.
Dipotong ke Husein yang sedang bermain drum di ruang kelas musik. Saat lagu berakhir, dia meletakkan stik drumnya. Pengisi suara Asy-Syaddad melanjutkan, “Serta kurangnya penerimaan masyarakat terhadap penyandang autisme.” Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak dalam Bahasa Indonesia di luar kamera.
Fade ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Copyright – @2022 Yogasmara Foundation. Semua hak cipta dilindungi undang-undang.”
Fade ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Proyek Keadilan Disabilitas dan Disability Rights Fund.” Logo Disability Justice Project adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video storytelling, dan teks putih bertuliskan “Disability Justice Project” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.
About this video Bantuan yang Tertolak
Detail teknis dalam kebijakan bantuan sosial di Indonesia telah menyebabkan banyak penyandang disabilitas tidak mendapatkan bantuan keuangan dari pemerintah. *Video termasuk deskripsi audio. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Kinanty Andini
Kinanty Andini is a freelance graphic design and digital artist. She is affiliated with the Indonesia Mental Health Association (IMHA), also known as the Association of Healthy Souls. Read more about Kinanty Andini
Transcript for Bantuan yang Tertolak
Video dimulai dengan rekaman gerakan cepat awan yang melintas di atas monumen putih tinggi dan kolam hijau dengan air mancur. Sebuah patung berada di depan monumen itu. Pohon-pohon palem mengelilingi kolamnya. Gedung-gedung tinggi berada di latar belakang. Musik piano lembut diputar di sepanjang video.
Lalu muncul Yeni Rosa Damayanti, seorang wanita Indonesia dengan rambut hitam sebahu, duduk di kantor dan berbicara ke kamera dalam Bahasa Indonesia, “Skema perlindungan sosial pemerintah biasanya berbasis keluarga.” Dia adalah ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Indonesia (IMHA). Beberapa barang diletakkan di atas meja berwarna krem di belakang Yeni; ada surat dan sertifikat dalam bingkai, ada penghargaan, dan tanaman dalam pot.
Muncul Yeni yang sedang duduk di dekat meja di luar dan memegang cangkir putih. Berbagai tanaman berada di belakangnya. Dia berbicara dengan seseorang di luar sorotan kamera.
Muncul Yeni yang berbicara di kantor, “Jadi, perlindungan sosial diberikan kepada keluarga yang masuk dalam kriteria miskin.”
Muncul Yeni berbicara kepada audiens di luar sorotan kamera di sebuah kantor. Dia berdiri dan menggunakan gerakan tangan untuk berkomunikasi dengan pendengarnya. Dia juga memegang sepiring makanan. Selembar kertas putih ditempelka diketuk pintu cokelat di latar belakang berisi teks yang bertuliskan, “Kosong.” Suara Yeni terus terdengar, “Masalahnya adalah banyak penyandang disabilitas tinggal bersama keluarga mereka.”
Muncul ke seorang pria yang mendorong seorang wanita di kursi roda. Wanita di kursi roda berambut hitam yang dikuncir kuda. Masker wajah pria itu tergantung di sisi kiri wajahnya. Dua orang berjalan di depan pria dan wanita di kursi roda dan memasuki sebuah rumah. Sang pria tersebut membantu wanita di kursi roda berdiri. Sebuah kolam renang berada di latar depan. Suara Yeni berlanjut, “Dan keluarga yang mereka tinggali belum tentu dikategorikan miskin.”
Muncul Yeni yang sedang berbicara.
Muncul gambar gedung DPR Indonesia dari udara, sebuah gedung bertingkat rendah dengan atap hijau muda yang melengkung. Beberapa gedung bertingkat tinggi dan pepohonan berada di latar belakang. Orang-orang berada di tangga menuju gedung DPR itu. Suara Yeni melanjutkan, “Pemerintah diharapkan mengubah persepsi tentang bantuan sosial, tidak lagi hanya ditujukan kepada keluarga miskin tetapi juga ditujukan kepada individu-individu miskin dengan kriteria yang sangat mudah, yaitu pendapatan perorangan.”
Muncul Yeni yang sedang berbicara.
Muncul gambar a close-up, gerak perlahan seorang Indonesia yang sedang menghitung koin rupiah. Dompet coklat dan piring dengan roti bakar coklat berada di atas meja.
Muncul Yeni yang berbicara, “Harapan kami adalah karena penyandang disabilitas memiliki biaya tambahan terkait disabilitas yang tidak dialami oleh orang yang bukan penyandang disabilitas, mereka harus mendapatkan tunjangan, setidaknya untuk menutupi biaya tambahan tersebut.”
Muncul Yeni yang sedang berbicara dengan gerakan tangan kepada audiens di luar sorotan kamera. Sebuah lukisan bunga dalam bingkai tergantung di dinding, dan sebuah jendela berada di latar belakang.
Muncul Yeni yang berbicara, “Jadi harus ada tunjangan disabilitas yang diberikan kepada semua penyandang disabilitas.”
Muncul gambar close-up seseorang di kursi roda yang mengambil uang kertas dolar Amerika Serikat dari dompet abu-abu. Ada selimut di pangkuannya.
Muncul Yeni yang berbicara, “Terlepas dari kondisi ekonomi mereka.”
Muncul gambar bergerak di ruang tamu yang remang-remang dengan sofa cokelat, tirai jendela putih-abu-abu, dan bingkai foto di dinding. Muncul “Bambang,” yang suaranya disamarkan, berbicara dalam Bahasa Indonesia: “Saya tidak mendapatkan bantuan tunai sama sekali.” Bambang adalah seorang pria penyandang disabilitas psikososial yang tidak ingin disebutkan namanya.
Muncul gambar close-up tangan Bambang. Ia duduk di sofa coklat. Ia berkata dengan suara yang disamarkan, “Dan untuk DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), jujur, saya sangat ingin data saya ada di sana (menjadi calon penerima DTKS).”
Muncul Bambang. bangkit dari sofa coklat dan berjalan ke ruangan lain di sebelah kiri. Ada kursi-kursi coklat lainnya di sekitar area ruang tamu. Suaranya yang disamarkan berlanjut, “Karena DTKS-lah yang menentukan apakah kita mendapatkan KPDJ (Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta) atau tidak.” Muncul Bambang sedang berbicara di sofa coklat.
Muncul gambar bergerak dari mobil dan sepeda motor yang melewati jalan yang sibuk yang dipenuhi dengan rumah dan toko-toko kecil. Beberapa orang berdiri di jalan yang sibuk. Suara Kinanty Andini mengatakan, “Meskipun Bambang tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan sendiri, kelayakannya untuk mendapatkan bantuan sosial didasarkan pada pendapatan keluarganya, bukan pendapatannya sendiri. Karena ibu dan saudara perempuannya tinggal di rumah yang lebih besar di bagian kota yang lebih kaya, mereka dianggap terlalu “kaya” baginya untuk memenuhi syarat mendapatkan bantuan.” Andini adalah seorang perempuan Indonesia dan pembuat video ini. Kutipan yang disebutkan sebelumnya ada dalam teks putih pada kartu judul biru di kiri bawah layar video.
Muncul Bambang berbicara dengan suara yang disamarkan, “Saya rasa kami paling berhak mendapatkan KPDJ karena kami adalah penyandang disabilitas. Kami punya biaya hidup tambahan seperti obat-obatan.”
Muncul Bambang membuka pintu depan rumahnya yang berwarna putih, membetulkan sandal hitamnya, lalu meninggalkan rumahnya. Suaranya yang disamarkan berlanjut, “Kalau itu (KPDJ) bisa menjangkau kami, itu akan sangat membantu kami sebagai penyandang disabilitas.”
About this video ‘Tidak Perlu Ditakuti’
Desa Jongaya adalah salah satu pemukiman kusta terakhir yang tersisa di Indonesia. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Dija
Dija is chairperson of the Association of Indonesian Women with Disabilities (HWDI)’s branch in Simbang in the Indonesian province of South Sulawesi. Read more about Dija
Transcript for ‘Tidak Perlu Ditakuti’
Video dimulai dengan mobil dan sepeda motor yang melaju di jalan yang sibuk di depan gerbang masuk Desa Jongaya di Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebuah spanduk besar dalam Bahasa Indonesia, menampilkan dua pria Indonesia, bergantung di gapura merah-putih di atas gerbang masuk Desa Jongaya, dan seorang pengendara sepeda motor memasuki desa itu. Kendaraan membunyikan klakson, dan musik piano lembut diputar di latar belakang sepanjang video.
Muncul teks hitam pada layar kuning bertuliskan, “Desa Jongaya adalah salah satu dari sedikit pemukiman kusta yang masih ada di Indonesia saat ini.” Suara kendaraan memudar.
Muncul teks hitam pada layar kuning bertuliskan, “Di masa lalu, penderita kusta dikarantina secara paksa, tetapi sekarang tidak ada lagi yang dipaksa untuk tinggal di Jongaya.”
Muncul teks hitam pada layar kuning yang sama bertuliskan, “Banyak yang memutuskan untuk pindah ke sini setelah mengalami diskriminasi di masyarakat mereka sendiri.”
Muncul Rahimi Daeng Rani, seorang pria Indonesia yang pernah mengalami kusta. Rani mengenakan topi sholat merah-putih, duduk di sebuah ruangan dan berbicara ke kamera dalam Bahasa Indonesia: ” Jadi orang tua tinggal di bangsal dulu, sewaktu ada bangsal di rumah sakit Jongaya..”
Muncul gambar bergerak ke arah enam pria Indonesia yang duduk di luar sebuah bangunan dengan grafiti di bagian luarnya. Seorang gadis Indonesia berjalan ke arah para pria tersebut. Suara Rahimi melanjutkan, ” Umur SD, ada belang-belang warna putih dipaha dan dilengan.” Orang-orang berbicara tidak terlihat kamera.
Muncul Rahimi yang berbicara di dalam ruangan, ” Disitu orang tua saya berkata, “kamu berobat karena kamu ada belang-belang warna putih”. Nah, dari situ, SD saya langsung dibawa ke puskesmas sama orang tua.” Orang-orang berbicara dan tertawa tidak terlihat di kamera.
Muncul seekor kucing oranye yang duduk di gang sempit di antara rumah-rumah dengan atap logam bergelombang berkarat. Kucing itu mengangkat kaki kanan dan menggaruk diri sendiri.
Muncul Rahimi berbicara, ” Saya masuk di sini, di Jongaya itu saya senang karena semua orang bagus, ramah-ramah, kita sama-sama orang yang disabilitas”
Muncul seorang perempuan Indonesia, mengenakan jilbab hijau, berjalan menyusuri gang yang dipenuhi gantungan jemuran cucian. Terdengar suara anak-anak berbicara, dan seorang anak Indonesia, di jendela sebuah rumah di sebelah kiri, melambaikan tangan kepada wanita itu. Suara Rani berlanjut, ” Tidak ada yang campuri.”
Muncul Rahimi berbicara, ” Tapi kalau kita keluar di jalan, banyak orang, mobil-mobil [angkutan umum] tidak mau ambil kita orang-orang yang disabilitas yang kelihatan disabilitasnya.” Orang-orang berbicara tidak terlihat di kamera.
Muncul tangkapan layar multi-warna dari sebuah artikel berita Indonesia dengan judul dalam teks hitam mengatakan, “Stigma dan Diskriminasi Masih Menjadi Tantangan bagi Eliminasi Kusta di Indonesia,” dalam Bahasa Indonesia. Bimo Aria Fundrika menulis artikel berita untuk “Suara.com,” yang diterbitkan pada 3 Februari 2022.
Muncul Rahimi berbicara, ” kan kalau seperti saya tidak kelihatan disabilitasnya, yang lain tidak diambil.” Orang-orang berbicara tidak terlihat di kamera.
Muncul gambar miring tiang telepon banyak kabel dari rumah-rumah di dekatnya. Sebuah rumah dengan dinding bata ada di sebelah kiri, dan seorang anak berbicara tidak terlihat di kamera.
Muncul Rahimi berbicara, ” Kalau saya lebih suka di sini karena orang dari luar saja sudah berani masuk di sini.”
Muncul seorang pengendara motor di sebuah gang. Sebuah sepeda motor yang diparkir bersandar pada atap seng berkarat di sebelah kanan, dan sebuah rumah berdinding bata di sebelah kiri. Seseorang berbicara tidak terlihat di kamera.
Muncul Rahimi berbicara, ” Tidak sama seperti dulu, orang-orang yang di luar itu tidak mau masuk di sini karena dulu di sini orang-orangnya terlalu didiskriminasi..”
Muncul gapura merah-putih dengan spanduk besar dalam Bahasa Indonesia, menampilkan dua pria Indonesia, tergantung di atas pintu gerbang Desa Jongaya.
Muncul Rahimi berbicara, ” Kalau Jongaya kita sebut itu ada sejarahnya juga, makanya yang di gerbang di luar itu semua masyarakat di sini melarang untuk dibongkar karena ada tulisan tahun Jongaya ada.” Orang-orang berbicara dan tertawa tidak terlihat di kamera.
Muncul anak-anak Indonesia yang bermain di luar rumah dua lantai dengan atap seng berkarat yang menghadap ke kali kecil yang memantulkan rumah tersebut. Seorang wanita Indonesia dengan rambut hitam sebahu mengawasi anak-anak.
Muncul Al Qadri, seorang pria Indonesia dan aktivis kusta yang pernah mengalami kusta. Dia berambut hitam pendek dan berkacamata, duduk di sofa abu-abu di sebuah ruangan dan berbicara ke kamera dalam Bahasa Indonesia dengan gerakan tangan, ” Saya berada di kompleks kusta ini karena adanya stigma dan diskriminasi terhadap orang yang mengalami kusta itu sekitar 20 tahun yang lalu. Itu betul betul. Stigma itu masih sangat kental, sangat kuat. Sehingga kalau ada orang, keluarga yang kena kusta itu, rata rata orang membuang keluarganya. ”
Muncul gambar close-up batu yang tergantung dari tali yang diikatkan ke kabel telepon pada hari yang cerah di luar.
Muncul Qadri berbicara di dalam ruangan dengan gerakan tangan, ” Bikinkan rumah rumah atau dia dipisahkan dari keluarganya. Olehnya itu, saya berinisiatif untuk meninggalkan keluarga karena pemahaman masyarakat bahwa kusta itu adalah aib. Jadi kalau ada keluarga yang kena kusta, maka yang perempuan tidak ada yang mau lamar, dengan laki laki tidak ada yang mau terima lamarannya. Itu yang membuat saya sehingga berada di kompleks ini, saya tinggalkan keluarga.”
Muncul gambar kamera bergerak pada apartemen satu kamar berlantai semen dengan barang-barang rumah tangga dan perabotan. Seorang gadis Indonesia dengan rambut hitam pendek duduk di tempat tidur kecil di sudut kiri.
Muncul Qadri berbicara, “Setelah saya putuskan untuk meninggalkan keluarga, saya memang mencari perkampungan yang cocok buat saya.”
Muncul gambar gerakan lambat seorang pria Indonesia yang berjalan menyusuri gang dengan sinar matahari yang terang mengaburkan wajahnya. Sebuah jemuran ada di sebelah kanan, seprai putih menutupi sepeda motor yang diparkir di sebelah kiri, dan kendaraan yang diparkir di sebelah kiri.
Munucl Qadri berbicara dengan gerakan tangan, ” Saya mendatangi beberapa perkampungan saya dari Lerang, Kabupaten Bone. Saya pergi ke tempat tempat di Kodya Pare-Pare dan terus beberapa perkampungan lainnya. Di tempat tempat tersebut tidak ada pekerjaan. Saya tidak merasa cocok karena disana hanya bertani dan batu merah.”
Muncul seorang pria Indonesia, mengenakan topi baseball cokelat, mengendarai sepeda motor yang menempel pada gerobak makanan. Sebuah kali kecil dan rumah-rumah dengan atap logam bergelombang berkarat berada di latar belakang. Suara Qadri melanjutkan, ” Sedangkan tangan seperti saya, kalau bekerja bekerja untuk batu merah, buat batu merah itu bisa tambah rusak.
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan, ” Nah akhirnya saya berada di Jongaya ini, saya mendapatkan pekerjaan sebagai tukang parkir. Di situ membuat saya tertarik sehingga saya apa lagi Namanya, mau berdomisili disini di Jongaya.”
Muncul kendaraan dan pengendara sepeda motor yang melintas di jembatan rendah di atas kali penuh sampah. Sebuah truk pick-up dan minivan yang diparkir saling berhadapan di jalan. Seorang wanita Indonesia mengenakan jilbab biru berjalan di tepi kali.
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan, ” Kalau dulu saat awal awal saya di sini, khususnya yang memang kelihatan butuh butuh fokus dan itu itu cukup banyak, yah ada sekitar 500an orang yang mengalami kusta dan mengalami kerusakan organ atau disabilitas seperti saya juga cukup banyak waktu itu.”
Muncul gambar pemakaman dengan batu nisan dari semen. Beberapa sepeda motor yang diparkir di dekat pemakaman, dikelilingi oleh pepohonan. Suara Qadri berkata, ” Tapi seiring dengan waktu, yang sudah tua meninggal, yang ada disabilitas juga sudah meninggal.”
Muncul gambar close-up, gambar miring dari tulisan pada dua nisan abu-abu yang masing-masing bertuliskan, “CANHOWAY RABU-22-11-2000,” dan “JAP YON LIEN 27-10-72″. Suara Qadri melanjutkan, ” Sehingga sekarang ini kalau kita melihat itu, presentase yang mengalami kerusakan organ atau disabilitas itu sudah sangat kecil.”
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan, ” Kalau saya tidak salah, hanya sekitar 200 yang mengalami kerusakan organ seperti saya. Tapi orang yang pernah mengalami kusta masih sangat banyak ada sekitar 450 orang. Tapi kalau dibandingkan dengan warga di sini, itu sangat kecil warga disini sudah ada sekitar 1300 lebih jiwa.”
Muncul dengan gerobak makanan berwarna biru dan kuning berjalan jalan kotor dan seorang pria Indonesia dengan rambut hitam pendek berjalan di belakang gerobak makanan tersebut. Sepeda motor yang diparkir berada di latar depan kiri, dan tanaman rumah tergeletak di jalan tanah di latar belakang. Seorang pengendara sepeda motor yang membawa penumpang bergerak di sudut jalan di latar depan, dan bel berbunyi tidak terlihat kamera. Qadri melanjutkan, ” Informasi belum sampai ke masyarakat secara benar tentang penyakit ini. Sehingga, masih banyak orang yang mengalami kusta itu cenderung menyembunyikan diri..”
Muncul Qadri berbicara dengan gerakan tangan, “Dan ketika dia mengalami kusta, menyembunyikan diri, dia tidak berobat, maka dia sangat berpeluang untuk menularkan ke orang lain.”
Muncul seorang wanita Indonesia dan seorang anak yang duduk di sebuah gang di samping sebuah rumah. Di atas mereka dan di depan mereka ada dua jemuran yang penuh. Dua anak Indonesia berjalan ke arah dua orang yang sedang duduk.
Muncul Qadri berbicara dengan gerakan tangan, ” Orang awam itu kan mereka mengidentik kusta seperti ini dia bilang itu kusta adalah jari jari yang keriting, jari jari yang puntung, tubuh yang penuh luka, kaki yang penuh luka, muka yang kayak monster dan sebagainya dan sebagainya.”
Muncul gambar bergerak di atas sebuah kali yang dibatasi oleh rumah-rumah kecil dengan atap logam bergelombang berkarat. Suara Qadri melanjutkan, ” Itu sebenarnya salah paham.
Karena penyakit kusta itu penyakit yang sangat simpel. ”
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan, “Penyakit yang menular, memang menular. Tapi penyakit yang paling sulit untuk menular. ”
Muncul foto close-up bekas luka kusta di bahu kanan seseorang.
Muncul to Qadri berbicara dengan gerakan tangan, “Kusta ini hanya baru berawal dari bercak-bercak di kulit disertai kurang rasanya, hanya berawal dari situ. Tapi karena bercak di tubuh itu yang tidak disertai gatal dan sebagainya, sehingga orang lalu bercak itu diabaikan dan tidak dihiraukan. Sehingga kuman yang ada di balik bercak itu, itu yang menggerogoti saraf saraf yang ada.”
Muncul gambar miring dari sepeda berkarat yang ada di atas rumah kecil dengan atap logam bergelombang berkarat. Sebuah tiang telepon dengan banyak kabel dari rumah-rumah di dekatnya memotong atap rumah kecil itu. Batu bata merah, dua kursi plastik putih, dan barang-barang lainnya mengelilingi rumah di luar.
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan, “Saya di sini berhadapan dengan semua yang ada di sini. Itu andaikata kuman saya masih aktif, tentu semuanya tertular oleh teman saya. Semuanya tertular oleh teman saya. ya di sini, berhadapan langsung dengan semua orang di sini. Jika bakteri saya masih aktif, pasti mereka akan menginfeksi teman-teman saya.”
Muncul gambar bergerak dari jendela sebuah ruangan kecil dengan tiga tempat tidur kayu. Beberapa pakaian tergeletak di atas setiap tempat tidur. Suara Qadri melanjutkan, ” Berapa orang dalam ruangan tertular? Akan tetapi, siapa yang bisa menjadi sakit? Itu yang sangat kecil.
Pertama tama bahwa memang harus diekspos lebih besar bagaimana supaya masyarakat betul betul bisa memahami penyakit ini. Itu yang pertama.”
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan.
Muncul pengendara sepeda motor dan seorang penumpang wanita Indonesia, mengenakan jilbab biru, memasuki Desa Jongaya. Pengendara sepeda motor kedua dengan penumpang dan bagasi berisi kendi air memasuki desa. Suara Quadri berlanjut, ” Mencapai bahwa apa lagi namanya itu.”
Muncul Qadri yang berbicara dengan gerakan tangan, ” untuk mengurangi masalah penyakit ini, itu yang paling utama. Terus, melibatkan mereka orang yang pernah mengalami kusta. kalau dia tidak mau melibatkan diri, maka kita harus memaksa untuk terlibat sebagai testimoni untuk menyadarkan masyarakat bahwa penyakit ini tidak perlu ditakuti, bahwa betul betul bisa disembuhkan. ”
Perlahan muncul teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Hak Cipta – @2022 HWDI. Semua hak cipta dilindungi undang-undang.”
Perlahan muncul teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Proyek Keadilan Disabilitas dan Dana Hak Disabilitas.” Logo Proyek Keadilan Disabilitas adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video bercerita, dan teks putih bertuliskan “Proyek Keadilan Disabilitas” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.
Berita dari Garis Depan Global Keadilan Disabilitas
Hak untuk Mengakses Bantuan Sosial
“Bambang,” seorang anggota Asosiasi Kesehatan Mental Indonesia (IMHA) dengan skizofrenia yang tidak ingin disebutkan nama sebenarnya, menghadapi dilema. Dia menganggur, tetapi karena tinggal bersama ibu dan saudara perempuannya di sebuah rumah di pinggir jalan besar di Jakarta, dia tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan sosial publik.
‘Setiap Orang Memiliki Mimpi’
Setiap tahun, rata-rata 250.000 orang didiagnosis mengalami kusta di seluruh dunia. Sebagai salah satu penyakit tertua di dunia yang telah dipelajari dan diobati berkali-kali, mengapa masih ada stigma yang kuat dan negatif di sekitar mereka yang terjangkit penyakit ini?
Aturan Hukum
Di usianya yang ke-76 tahun, Ibu Ariani telah menciptakan sebuah warisan abadi sebagai aktivis hak-hak disabilitas di Indonesia, dengan mengadvokasi untuk para penyandang disabilitas lainnya agar dapat sepenuhnya terlibat dalam setiap aspek di masyarakat. Selama bertahun-tahun, beliau telah membantu memulai beberapa organisasi hak-hak disabilitas di negaranya, yang masing-masing memiliki dampak signifikan pada segala hal mulai dari pemilihan umum yang inklusi hingga infrastruktur yang dapat diakses.
Berdiri Teguh
Setelah DJP Fellow Naufal Asy-Syaddad didiagnosis menderita autisme, ia mengalami perundungan dan pengucilan di tahun-tahun awal sekolahnya. Sekarang, ia menemukan rumah di Yogasmara Foundation, di mana ia mengadvokasi hak-hak disabilitas dan meningkatkan kesadaran tentang autisme. Orang dengan autisme, katanya, “sangat disalahpahami.”
Hak atas Kesehatan
Enam tahun setelah Indonesia mengesahkan undang-undang disabilitas dan sebelas tahun setelah Indonesia meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas Indonesia masih belum memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan. Hal ini menciptakan lingkaran setan. Hidup dalam kemiskinan karena hambatan pendidikan dan pekerjaan, banyak penyandang disabilitas Indonesia tidak mampu membayar biaya perawatan kesehatan. Dipaksa untuk pergi tanpa perawatan medis, mereka menjadi lebih sakit dan mungkin lebih cacat dan jatuh lebih dalam ke dalam utang.