Films
About this video Cara Belajar yang Berbeda
Penyandang Autisme di Indonesia Menempuh Jalan Sendiri Menuju Pendidikan dan Pekerjaan Kesempatan kerja terbatas bagi penyandang autisme di Indonesia. Tantangan muncul karena perbedaan komunikasi antara penyandang neurodiversitas dan neurotipikal – dan karena kurangnya penerimaan
Filmmaker: Naufal Asy-Syaddad
Naufal Asy-Syaddad is a disability rights activist with autism and chairperson of Yogasmara Foundation's youth group. Read more about Naufal Asy-Syaddad
Transcript for Cara Belajar yang Berbeda
Video dimulai dengan musik piano lembut dan layar animasi hitam, merah, putih, dan biru. Teks merah pada layar biru muda bertuliskan, “Naufal Asy-Syaddad.” Di bawahnya, teks putih bertuliskan, “DJP fellow from Indonesia.” Sulih suara Naufal Asy-Syaddad mengatakan, “Halo teman-teman. Perkenalkan, nama saya Naufal Asy Syaddad, DJP fellow dari Indonesia.”
Dipotong ke layar animasi hitam, putih, dan merah melingkar. Teks putih pada layar biru laut mengatakan, “Tema video ini.” Suara Asy-Syaddad melanjutkan, “Saya akan mengangkat tema kendala dalam mendapatkan kesempatan kerja bagi penyandang autisme.”
Dipotong ke layar animasi hitam, merah, putih, dan biru. Teks putih pada layar biru bertuliskan, “Kendala dalam mendapatkan kesempatan kerja bagi penyandang autisme.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Sebagai penyandang disabilitas autisme, mereka masih banyak mengalami kesalahpahaman.”
Dipotong ke layar animasi hitam, putih, dan merah melingkar. Teks putih pada layar biru muda bertuliskan, “Narasumber dalam video ini.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Sehingga ketika mereka sudah dewasa dan tiba waktunya untuk mencari pekerjaan, hal ini memiliki kesulitan tersendiri.”
Dipotong ke layar animasi merah dan merah muda melingkar. Teks merah pada layar putih bertuliskan, “M Atarriq Husein / Musisi penyandang autisme.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Kita memiliki 2 orang narasumber, yaitu Husein dan Faisal.”
Dipotong ke layar animasi merah dan merah muda melingkar. Teks merah pada layar putih bertuliskan, “Muhammad Faisal Hakim / Pengusaha telur asin penyandang autisme.” Sulih suara Asy-Syaddad berlanjut, “Mereka akan menceritakan bagaimana upaya-upaya mereka dalam mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan.”
Dipotong ke pan shot M. Attariq Husein, seorang pria dan musisi Indonesia penyandang autisme, mengenakan kemeja merah dan berbicara dengan para siswa di ruang kelas musik. Di latar belakang, seorang anak laki-laki Indonesia mengenakan kacamata dan kemeja hitam memainkan keyboard. Seorang pria Indonesia yang mengenakan masker wajah biru, kacamata, dan kemeja bermotif mustard, memperhatikan siswa yang sedang bermain keyboard. Sebuah papan tulis dan dinding plum berada di belakang mereka. Di sebelah kanan, seorang pria Indonesia duduk di meja, mengenakan masker wajah putih dan kemeja bermotif hijau-merah.
Dipotong ke dengan Husein yang berbicara dengan seorang gadis muda Indonesia yang mengenakan jilbab putih. Pria Indonesia yang mengenakan masker wajah biru dan kemeja bermotif mustard bergabung dalam percakapan mereka. Di latar belakang, seorang anak laki-laki Indonesia duduk di tanah di sebelah kiri, dan anak laki-laki lain membuka pintu kelas.
Dipotong ke Husein, mengenakan kemeja hitam-merah dengan tulisan putih dan gambar orang di atasnya, duduk di sofa dua tempat duduk berwarna coklat di sebuah ruangan. Dinding krem berada di latar belakang. Asy-Syaddad, seorang pemuda Indonesia yang mengenakan kacamata, celana putih, dan kemeja hijau muda, bergabung dengan Husein di sofa. Asy-Syaddad berbicara ke kamera, “Saat ini saya sedang bersama Muhammad Atarriq Husein. Nah, dia ini adalah penyandang diasabilitas autisme yang lahir pada tanggal 26 Januari tahun 2000. Jadi usianya dia itu sudah 22 tahun. Nah, dia itu memiliki bakat di bidang musik.”
Dipotong ke Husein bernyanyi ke dalam mikrofon di ruang kelas musik. Sebuah papan tulis, dudukan mikrofon, amplifier, speaker, dan barang-barang kelas lainnya berada di latar belakang. Voiceover Asy-Syaddad berlanjut, “Dan dia itu telah memiliki banyak prestasi di bidang musik.”
Dipotong ke Husein dan Asy-Syaddad yang duduk di sofa dua tempat duduk berwarna coklat. Husein berbicara ke kamera, “Ada. pasti itu ya, kendalanya itu. Bukan hanya kuliah jurusan musik. Gue aja yang gak tahu… apa ya… kan di sekolahku kan nggak ada diajari not balok, semuanya itu dari otodidak. Semuanya itu dari otodidak, jadi benar-benar sesuai kemampuannya, dipelajari sendiri-sendiri itu. Kalau di perguruan tinggi yang asli itu, saya diceritain sama guru saya Pak Harsono, ‘Lu kuliah di situ gak bakal mampu.’” Musik piano yang lembut memudar.
Dipotong ke Husein yang sedang menabuh drum di atas drum set hitam di sudut ruang kelas musik, di depan dinding plum. Sebuah gitar bass, amplifier, dan speaker hitam berada di sebelah kanan. Seseorang bernyanyi dengan musik di luar kamera. Husein melanjutkan suaranya, “‘Gak bakal mampunya gimana, gak bakal mampu. Lu akan ditanyain rumus, ditanyain not balok, ditanyain tulisan, yang gambar musik,’ sebenarnya kita gak mempelajari itu. Kita gak ada fasilitasnya seperti itu, baik di sekolah.”
Dipotong ke Husein dan Asy-Syaddad yang duduk di sofa coklat. Husein berkata, “Umum kayak belajar itu, balik lagi ke SMP dulu, kalo belajar kuliahnya itu balik lagi ke situ, lha saya gak mau. Ada kendalanya juga sih, nah kan untuk kuliahnya sendiri kalau untuk sekarang ini ya, untuk sekarang ini ABK baru masuk yang tuna rungu, tuna netra, sama tuna daksa. Yang tidak peduli fisiknya seperti apa yang penting otak mereka [non-disabilitas]. Sementara mereka yang memiliki autisme dan disabilitas psikologis, meskipun memiliki tubuh [non-disabilitas], seperti Anda, mereka memiliki [kebutuhan belajar] yang berbeda.” Musik piano yang lembut diputar lagi.
Dipotong ke Husein yang sedang bermain drum di ruang kelas musik. Voiceover Husein berlanjut, “Ho di bawah (rata-rata) itu lho… itu yg sangat disayangkan sama, itu lho di Indonesia, itu aja sih. Ada kendalanya sendiri makanya saya nggak mau lagi berkuliah.”
Dipotong ke Husein dan Asy-Syaddad yang duduk di sofa coklat. Asy-Syaddad, menoleh ke Husein, bertanya “Berkuliah di bidang musik ya?” Husein menjawab, “Nggak. Ya karena. Ada kendala. Bukan kendala sih, lebih tepatnya saya nggak tahu apa itu not balok, itu saya gak tahu apa itu itu. Kan pasti ditanyain juga itu, yang namanya rumus, misalkan ke matematika itu juga ditanyain juga itu.”
Dipotong ke Muhammad Faisal Hakim, seorang pria dan pengusaha Indonesia yang menyandang autisme, berjongkok di lantai ubin, mengelap telur rebus dalam mangkuk plastik ungu dengan kain kuning. Dia mengenakan kemeja biru kehijauan, celemek merah-putih, sarung tangan plastik transparan di tangan kanannya, dan celana hitam. Mangkuk plastik biru muda berada di sebelah kiri mangkuk plastik ungu, dan bak plastik dengan penutup merah dan label putih, berisi cairan dan telur rebus, berada di sebelah kanan. Di latar belakang, sebuah telepon dan tas hitam tergeletak di atas sofa abu-abu dan coklat.
Dipotong ke Faisal, ibunya, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab merah dan kacamata, duduk di atas pelatih putih-coklat bersama Asy-Syaddad. Faisal duduk di sebelah kiri dan mengenakan kemeja berwarna biru kehijauan dengan desain dan teks bertuliskan, “Thailand,” di tengahnya. Ibu Faisal duduk di tengah dan Asy-Syaddad duduk di sebelah kanan, mengenakan kemeja hijau muda dan kacamata hitam. Asy-Syaddad berkata ke kamera, “Saat ini saya bersama dengan Budhe Sri Murni dan Faisal. Nah Faisal ini adalah penyandang autisme juga yang telah berusia 25 tahun ya?” Ibu Faisal berkata, “Enam.” Asy-Syaddad melanjutkan, “26 tahun ya, dia telah berusia 26 tahun, sekarang dia penyandang autisme yang berwirausaha.”
Dipotong ke Faisal yang berjongkok di lantai ubin. Ia selesai membersihkan telur rebus dalam mangkuk plastik ungu dengan kain kuning. Ia memindahkan telur itu ke mangkuk plastik biru muda di sebelah kiri. Suara ibu Faisal mengatakan, “Untuk kendalanya tetap banyak Naufal ya, di sana mungkin dia tidak bisa mengikuti instruksi dari kepala sekolahnya.”
Dipotong ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad duduk di dalam kamar. Ibu Faisal berbicara kepada Asy-Syaddad dengan gerakan tangan, “Harus bagaimana, harus setelah ini, ini, ini, ini, Faisal tidak punya ide, seperti itu.”
Dipotong ke memperbesar dari Faisal yang mengenakan sarung tangan plastik dan menggiling siung bawang putih menggunakan lesung dan alu di atas lantai berubin putih. Sebuah bak mandi putih berada di sebelah kiri, dan dua handuk dapur berwarna-warni tergeletak di sebelah kanan. Sulih suara ibu Faisal berlanjut, “Tetapi, saya sebagai orang tua ketika Faisal itu sebelum masuk ke sana pun kan saya sudah, apa ya.”
Dipotong ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Mengusahakan di rumah itu ada sesuatu yang harus dia kerjakan, yaitu membuat telur asin.”
Dipotong ke bidikan close-up Faisal yang terus membersihkan telur rebus. Dia menempatkan telur lain di mangkuk plastik biru muda.
Dipotong ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Pernah. Dulu pernah daftar ke bandeng juwono ya, itu atas saran Bu Ema, Emanuella,
kenal kan? Itu beliau di sana.”
Dipotong ke bidikan close-up Faisal yang selesai menggosok telur terakhir dan berbalik untuk mengambil lesung dan alu di sebelah kiri. Satu mangkuk beras dan satu mangkuk lagi berisi cabai merah, siung bawang putih, dan jempol jahe berada di antara lesung dan mangkuk plastik. Suara ibu Faisal berlanjut, “Dan Faisal juga sudah mengikuti tes-tes, tes psikologi, tes ini.”
Dipotong ke Faisal, Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Ternyata dari pihak sana pun ada beberapa yang terima, tetapi ada bagian tertentu yang tidak mau
terima.”
Dipotong ke Faisal menyendok cabe yang sudah dihancurkan keluar dari mortalnya dengan sendok sayur berwarna merah muda dan krem dan mencampurkannya ke dalam bak plastik di sebelah kiri. Bak itu berisi cairan, dan sebuah label putih juga ada di atasnya. Voiceover ibu Faisal berlanjut, “Karena apa, Faisal sudah anaknya yang sudah mulai tak teratur di misalnya untuk sholat. Kalo bekerja di erlina itu kan di bandeng juwono gak bisa kan untuk kamu sholat harus tepat waktu.”
Dipotong keFaisal yang dibungkus kantong plastik, direndam di dalam bak plastik dengan label putih. Sulih suara ibu Faisal berlanjut, “Padahal di sini sedang banyak yg membeli, seperti itu. Takutnya nanti Faisal itu di sana ketemu orang banyak, dengan suara-suara orang-orang yang keluar, yang mungkin Faisal belum… belum.”
Potongan ke Faisal, ibunya, dan Asy-Syaddad. Ibu Faisal berbicara dengan gerakan tangan, “Mudeng dan nanti terbawa akhirnya dari pihak sana, sepertinya Faisal bekerja di rumah saja. Alhamdulillah saya senang sekali.” Musik piano lembut memudar.
Dipotong ke Faisal duduk bersila di lantai, memegang karton plastik berisi telur yang sudah jadi. Sebuah label pada karton bertuliskan, “Mas Faizal,” dalam Bahasa Indonesia. Sebuah bak plastik dengan tutup merah berada di sebelah kanan. Pengisi suara Asy-Syaddad mengatakan, “Jadi, kesimpulannya adalah individu autisme mengalami kesulitan mendapatkan kesempatan kerja dikarenakan kondisi khusus mereka, yaitu perbedaan cara komunikasi dan sosialisasi.” Musik band dimainkan dan seseorang bernyanyi bersama di luar kamera.
Dipotong ke Husein yang sedang bermain drum di ruang kelas musik. Saat lagu berakhir, dia meletakkan stik drumnya. Pengisi suara Asy-Syaddad melanjutkan, “Serta kurangnya penerimaan masyarakat terhadap penyandang autisme.” Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak dalam Bahasa Indonesia di luar kamera.
Fade ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Copyright – @2022 Yogasmara Foundation. Semua hak cipta dilindungi undang-undang.”
Fade ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Proyek Keadilan Disabilitas dan Disability Rights Fund.” Logo Disability Justice Project adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video storytelling, dan teks putih bertuliskan “Disability Justice Project” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.
About this video Bantuan yang Tertolak
Detail teknis dalam kebijakan bantuan sosial di Indonesia telah menyebabkan banyak penyandang disabilitas tidak mendapatkan bantuan keuangan dari pemerintah. *Video termasuk deskripsi audio. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Kinanty Andini
Kinanty Andini is a freelance graphic design and digital artist. She is affiliated with the Indonesia Mental Health Association (IMHA), also known as the Association of Healthy Souls. Read more about Kinanty Andini
Transcript for Bantuan yang Tertolak
Video dimulai dengan rekaman gerakan cepat awan yang melintas di atas monumen putih tinggi dan kolam hijau dengan air mancur. Sebuah patung berada di depan monumen itu. Pohon-pohon palem mengelilingi kolamnya. Gedung-gedung tinggi berada di latar belakang. Musik piano lembut diputar di sepanjang video.
Lalu muncul Yeni Rosa Damayanti, seorang wanita Indonesia dengan rambut hitam sebahu, duduk di kantor dan berbicara ke kamera dalam Bahasa Indonesia, “Skema perlindungan sosial pemerintah biasanya berbasis keluarga.” Dia adalah ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Indonesia (IMHA). Beberapa barang diletakkan di atas meja berwarna krem di belakang Yeni; ada surat dan sertifikat dalam bingkai, ada penghargaan, dan tanaman dalam pot.
Muncul Yeni yang sedang duduk di dekat meja di luar dan memegang cangkir putih. Berbagai tanaman berada di belakangnya. Dia berbicara dengan seseorang di luar sorotan kamera.
Muncul Yeni yang berbicara di kantor, “Jadi, perlindungan sosial diberikan kepada keluarga yang masuk dalam kriteria miskin.”
Muncul Yeni berbicara kepada audiens di luar sorotan kamera di sebuah kantor. Dia berdiri dan menggunakan gerakan tangan untuk berkomunikasi dengan pendengarnya. Dia juga memegang sepiring makanan. Selembar kertas putih ditempelka diketuk pintu cokelat di latar belakang berisi teks yang bertuliskan, “Kosong.” Suara Yeni terus terdengar, “Masalahnya adalah banyak penyandang disabilitas tinggal bersama keluarga mereka.”
Muncul ke seorang pria yang mendorong seorang wanita di kursi roda. Wanita di kursi roda berambut hitam yang dikuncir kuda. Masker wajah pria itu tergantung di sisi kiri wajahnya. Dua orang berjalan di depan pria dan wanita di kursi roda dan memasuki sebuah rumah. Sang pria tersebut membantu wanita di kursi roda berdiri. Sebuah kolam renang berada di latar depan. Suara Yeni berlanjut, “Dan keluarga yang mereka tinggali belum tentu dikategorikan miskin.”
Muncul Yeni yang sedang berbicara.
Muncul gambar gedung DPR Indonesia dari udara, sebuah gedung bertingkat rendah dengan atap hijau muda yang melengkung. Beberapa gedung bertingkat tinggi dan pepohonan berada di latar belakang. Orang-orang berada di tangga menuju gedung DPR itu. Suara Yeni melanjutkan, “Pemerintah diharapkan mengubah persepsi tentang bantuan sosial, tidak lagi hanya ditujukan kepada keluarga miskin tetapi juga ditujukan kepada individu-individu miskin dengan kriteria yang sangat mudah, yaitu pendapatan perorangan.”
Muncul Yeni yang sedang berbicara.
Muncul gambar a close-up, gerak perlahan seorang Indonesia yang sedang menghitung koin rupiah. Dompet coklat dan piring dengan roti bakar coklat berada di atas meja.
Muncul Yeni yang berbicara, “Harapan kami adalah karena penyandang disabilitas memiliki biaya tambahan terkait disabilitas yang tidak dialami oleh orang yang bukan penyandang disabilitas, mereka harus mendapatkan tunjangan, setidaknya untuk menutupi biaya tambahan tersebut.”
Muncul Yeni yang sedang berbicara dengan gerakan tangan kepada audiens di luar sorotan kamera. Sebuah lukisan bunga dalam bingkai tergantung di dinding, dan sebuah jendela berada di latar belakang.
Muncul Yeni yang berbicara, “Jadi harus ada tunjangan disabilitas yang diberikan kepada semua penyandang disabilitas.”
Muncul gambar close-up seseorang di kursi roda yang mengambil uang kertas dolar Amerika Serikat dari dompet abu-abu. Ada selimut di pangkuannya.
Muncul Yeni yang berbicara, “Terlepas dari kondisi ekonomi mereka.”
Muncul gambar bergerak di ruang tamu yang remang-remang dengan sofa cokelat, tirai jendela putih-abu-abu, dan bingkai foto di dinding. Muncul “Bambang,” yang suaranya disamarkan, berbicara dalam Bahasa Indonesia: “Saya tidak mendapatkan bantuan tunai sama sekali.” Bambang adalah seorang pria penyandang disabilitas psikososial yang tidak ingin disebutkan namanya.
Muncul gambar close-up tangan Bambang. Ia duduk di sofa coklat. Ia berkata dengan suara yang disamarkan, “Dan untuk DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), jujur, saya sangat ingin data saya ada di sana (menjadi calon penerima DTKS).”
Muncul Bambang. bangkit dari sofa coklat dan berjalan ke ruangan lain di sebelah kiri. Ada kursi-kursi coklat lainnya di sekitar area ruang tamu. Suaranya yang disamarkan berlanjut, “Karena DTKS-lah yang menentukan apakah kita mendapatkan KPDJ (Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta) atau tidak.” Muncul Bambang sedang berbicara di sofa coklat.
Muncul gambar bergerak dari mobil dan sepeda motor yang melewati jalan yang sibuk yang dipenuhi dengan rumah dan toko-toko kecil. Beberapa orang berdiri di jalan yang sibuk. Suara Kinanty Andini mengatakan, “Meskipun Bambang tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan sendiri, kelayakannya untuk mendapatkan bantuan sosial didasarkan pada pendapatan keluarganya, bukan pendapatannya sendiri. Karena ibu dan saudara perempuannya tinggal di rumah yang lebih besar di bagian kota yang lebih kaya, mereka dianggap terlalu “kaya” baginya untuk memenuhi syarat mendapatkan bantuan.” Andini adalah seorang perempuan Indonesia dan pembuat video ini. Kutipan yang disebutkan sebelumnya ada dalam teks putih pada kartu judul biru di kiri bawah layar video.
Muncul Bambang berbicara dengan suara yang disamarkan, “Saya rasa kami paling berhak mendapatkan KPDJ karena kami adalah penyandang disabilitas. Kami punya biaya hidup tambahan seperti obat-obatan.”
Muncul Bambang membuka pintu depan rumahnya yang berwarna putih, membetulkan sandal hitamnya, lalu meninggalkan rumahnya. Suaranya yang disamarkan berlanjut, “Kalau itu (KPDJ) bisa menjangkau kami, itu akan sangat membantu kami sebagai penyandang disabilitas.”
About this video Coronavirus Fight Song
Music sensation SingStar Ali says persons with disabilities in Rwanda have been particularly impacted by the pandemic due to inaccessible washing stations, the inability to social distance, and more.
Filmmaker: SingStar Ali
SingStar Ali is based in Rwanda. Read more about SingStar Ali
Transcript for Coronavirus Fight Song
“Disability Rights Advocacy Fund” logo, UPHLS logo, and the words “WASH for All” in quotation marks appear on a white background. Slightly melancholic keyboard music starts. Cut to closeup of a man playing yellow guitar with “OC PICTURES” title card in white.
Cut to a man who is blind and wearing a black-and-gray, button-down shirt, sunglasses, leather jacket, jeans, and black-and-orange sneakers. He is holding a white cane. His name is SingStar Ali, and he is the musical artist of this music video. He appears in a few other scenes throughout the video: he stands in front of a black car with all the doors open, he plays a yellow guitar while sitting on a bench and wearing a white, button-down shirt and a black suit jacket. Lastly, in one closeup scene, he wears a pink-and-white, button-down shirt.
There is a brief transparent cut to a man wearing a blue face mask and then an infographic related to COVID-19.
Cut to SingStar singing the lyric “Singstar,” and a title card “SINGSTAR” appears on screen in white. He then sings “Ali.”
There is a “CORONA” title card in white. SingStar Ali sings the lyrics, “Coronavirus has already grown its roots.” In the lower righthand corner of the screen, a sign language interpreter translates the words. The interpreter is wearing a blue-and-yellow, tunic-like shirt and is seated in front of a white board. He remains in the bottom right corner for the rest of the music video.
SingStar Ali sings, “There isn’t a single person who didn’t feel the outcome.”
Cut to a closeup of a person wearing a blue mask looking at the camera to their left.
Cut to SingStar Ali singing, “For people with disability, it got even worse.”
Cut to a closeup for a hand wearing a blue glove. The hand is holding a test tube that is covered in white paper that says, “Coronavirus” and has two checkboxes for a negative or positive result. There is red liquid in the test tube. The test tube has a yellow cover. There is a red checkmark in the positive checkbox.
Cut to a closeup of a SingStar Ali singing, “Because they already had many obstacles that wouldn’t let them live independently/“Stay at home” happened, poverty got amplified, And stayed.”
A still photograph appears of people standing next to big blue buckets. There is a man wearing a blue face mask and a black-and-red shirt. He has a white watch on. There is a second man to his left wearing a green uniform and a green hat. The second man is wearing a blue face mask. Next to the second man on his left is a woman wearing a black hijab and an orange shirt. She has her hand out, and the man wearing the green uniform is putting something in her hand. To the woman’s left, there is a third man wearing a white face mask. He has on a red shirt and a blue shirt over it. There are yellow letters on the top left corner of the blue shirt.
Cut to SingStar Ali singing, “The ones we worked with began missing jobs/We pushed hard but in vain/We pushed hard but in vain/Life continued getting harder/We continued to strive.”
A closeup image of a blue face mask briefly appears on the screen.
Cut back to the SingStar Ali singing, “But poverty continued to be more than issue/Corona…virus.”
Cut to a closeup image of a hand wearing a blue glove. The hand is holding a test tube that is covered in white paper that says, “Coronavirus” and has two checkboxes for a negative or positive result. There is red liquid in the test tube. The test tube has a yellow cover. There is a red checkmark in the positive checkbox.
Cut to SingStar Ali singing, “People with disability, we will continue fighting you/Corona…virus.”
Cut to a still photograph of a medical professional wearing a white hazmat suit with blue lines on it. They are also wearing green goggles and blue gloves. They are pointing a thermometer to the forehead of a woman. Her hair is in a ponytail, and she is wearing silver earrings.
SingStar Ali sings, “People with disability, we will continue protecting ourselves against you.”
Singstar Ali raps, “Poverty makes it harder for people to find clean water and soap/People with disability among us who were not informed on the epidemic and preventative measures.”
Cut to a closeup shot of a Patrolman stereo.
Cut to a white, black, and brown television set with SingStar Ali strumming his yellow guitar. He sings, “Most of them do not have access to radios, TVs and other communication materials in accessible format.”
Cut to a closeup of a pair of sunglasses and a white cane on a green bench.
Cut to SingStar singing, “We found ways to fight you even if some of us ignored the measures.”
Cut to a still image of a person wearing a white hazmat suit, a blue face mask, and goggles. There is a second man fixing the first man’s hazmat suit. The second man is wearing a blue-and-white polka-dotted, button-down shirt and a white lab coat over it. The second man is wearing a blue face mask, white goggles, and a blue hair net. There is a yellow-and-black wall and a window in the background.
SingStar Ali appears again, singing, “But people with disability know that we still have many obstacles/little stature don’t even know how to get to wash their hands due to theIR HEIGHT.”
Cut to a man with dwarfism wearing an orange shirt. He is wearing a green mask and has black messenger bag slung over one shoulder. He is attempting to lift his hands into a sink to wash his hands.
Cut to SingStar Ali singing, “Inaccessible hand-washing facilities where it is difficult for the people with disabilities to use them, including little people, wheelchair users.”
There is a brief transition to a person wearing green, pink, and black sneakers. They are also wearing dark blue jeans. There is a second brief transition to SingStar Ali.
Cut to a closeup of a pair of hands pressing on a soap dispenser.
Cut to a closeup of a SingStar Ali singing, “Person with visual impairment cannot respect physical distancing properly.”
Cut to a woman who is blind holding hands with a man. The woman is wearing a green dress and using a white cane. She is also wearing a blue face mask and black sunglasses. She has her hair pulled back in a ponytail. The man holding hands with her has a blue-and-yellow shirt on with black jeans. He is wearing a pink face mask. They are both walking towards the camera.
There is a transition to Singstar Ali and then a cut to a still image of people waiting in line. They are all wearing masks. There are yellow buses to their left and a building next to the buses. In the background of this picture is a frame of one of SingStar Ali’s scenes.
Singstar Ali sings, “people with hearing impairment who can’t hear you unless they can read you what you are telling them.”
Cut to a clip of a man wearing a black face mask. He is wearing a white-and-black striped, button-down shirt, and he is pointing towards something. He is sitting on a chair. There is a white board behind him.
Cut to SingStar Ali singing, “And the mask that are there.” He covers his mouth with his hand. A transparent image of a blue mask appears on the screen.
Cut to SingStar Ali singing, “people with mental impairment challenged who are having uncontrolled movement as they wish.”
The song continues: “We know the expansion of coronavirus/Those ignoring it like they don’t know/We pushed hard but in vain.”
There is a brief transition to a still photograph of a medical professional wearing a white hazmat suit with blue lines on it. The professional is also wearing green goggles and blue gloves and holding a thermometer to the forehead of a woman. Her hair is in a ponytail, and she is wearing silver earrings.
Cut to SingStar Ali singing, “Life continued getting harder/We continued to strive/But poverty continued to be more than issue/Corona…virus/People with disability, we will continue fighting you/Corona…virus/People with disability we will continue protecting ourselves against you/We pushed hard but in vain/Life continued getting harder/We continued to strive/But poverty continued to be more than issue/Corona…virus/People with disability, we will continue fighting you/Corona…virus/People with disability, we will continue protective ourselves against you.”
End credits appear on screen. There is a “SINGSTAR” title card in white over shots of SingStar Ali from the video.
Cut to “CORONA” title card in white over a shot of a pair of sunglasses on a green bench.
Cut to black screen and “Produced by UPHLS” title card in white. “Disability Rights Advocacy Fund” logo, UPHLS logo, and words “WASH for All” in quotation marks appear on a white background.
Fade to black.
About this video Di Luar Kendali Mereka
Eka Setiawan, seorang aktivis tunanetra, mengatakan bahwa para advokat harus terus menuntut lebih banyak kesempatan profesi bagi orang Indonesia yang buta dan low vision. *Baca bersama dengan mengklik tombol cc pada pemutar YouTube Anda.
Filmmaker: Mahretta Maha
Mahretta Maha is a disability rights activist living with blindness. She is a program officer at the Association for Disability Access Elections (PPUAD) for the National Coalition of Organizations with Disabilities. Read more about Mahretta Maha
Transcript for Di Luar Kendali Mereka
Video dimulai dengan musik piano yang lambat.
Perlahan muncul Sadiah, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab hijau, duduk di sofa abu-abu dan berbicara ke kamera dalam Bahasa Indonesia: “Perkenalkan nama saya Sadiah, saya seorang disabilitas netra.”
Muncul gambar mundur Sadiah yang berlutut dan memijat kaki seorang klien yang berbaring di atas kasur abu-abu di lantai.
Muncul gambar mundur Sadiah memijat punggung klien, seorang pria Indonesia. Sulih suara Sadiah berlanjut, “Saya adalah ibu rumah tangga dan berprofesi sebagai Masseur atau juru pijat. Saya hanya memiliki tempat yang sangat sederhana.”
Muncul gambar mundur papan nama dalam Bahasa Indonesia mengiklankan Panti Pijat Tunanetra Rohim.
Muncul Sadiah yang duduk di dalam ruangan, “Sebelum pandemi saja saya sudah mengalami penurunan pendapatan.”
Muncul gambar papan dalam Bahasa Indonesia mengiklankan Panti Pijat Tunanetra Rohim. Sulih suara Sadiah berlanjut, “Misalnya kalo dulu bisa dalam satu hari saya mijat tiga atau empat pasien, untuk sekarang ini dalam satu hari satu saja atau satu minggu dapat tiga orang pasien saja itu sudah sangat beruntung.”
Muncul Sadiah berbicara, “Apalagi disaat pandemi kemarin dalam dua tahun kebelakang kemarin.”
Muncul matahari terbit di atas jalan perdagangan yang sepi. Beberapa burung terbang melintasi jalan dan hinggap di trotoar sebelah kiri.
Muncul Sadiah berbicara, “Kami para Masseur khususnya saya benar benar tidak ada pasien yang mau berkunjung ataupun memakai jasa saya atau jasa kami para massier tunanetra.”
Muncul close-up seorang pria Indonesia yang menekan tombol pada speaker besar yang diikatkan di dadanya sementara sebuah lagu diputar dari speaker. Dia berdiri di sebuah ruangan.
Muncul Sutoro, pria dengan speaker, bernyanyi dengan mikrofon yang kabelnya melingkari lehernya. Sutoro berambut abu-abu dan mengenakan kemeja merah dan emas. Dalam Bahasa Indonesia, suaranya berkata, “Nama Saya Sutoro.”
Muncul papan nama biru-putih dalam Bahasa Indonesia yang mengiklankan Panti Pijat Tunanetra Binaan Suku Dinas Sosial Jakarta Barat. Speaker Sutoro memainkan sebuah lagu di latar belakang.
Muncul Sutoro yang sedang memijat kaki klien yang berbaring di atas meja pijat warna warni. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Dan profesi saya adalah juru pijat atau masseur.” Musik dari speaker Sutoro perlahan berganti menjadi musik piano yang emosional.
Muncul Sutoro yang berdiri di depan dinding putih dan berbicara ke kamera: “Namun karena situasi dan kondisi.”
Muncul Sutoro berkacamata hitam dan menggunakan tongkat putih berjalan di tepi jalan yang sibuk. Sebuah speaker diikatkan di dadanya, dan beberapa pengendara sepeda motor melaju di jalan. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Saya akhirnya ganti profesi atau pindah profesi.”
Muncul Sutoro yang berdiri di dalam ruangan, “Yaitu kalo pagi saya pergi ke pasar untuk menjalankan aktivitas untuk menjadi seniman jalanan atau ngamen.”
Muncul Sutoro bernyanyi di mikrofonnya sambil menyesuaikan speakernya di sebuah ruangan.
Muncul foto seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab hijau dan membawa banyak kantong kerupuk di sisi jalan. Seorang anak laki-laki Indonesia, mengenakan penutup topi baseball, berjalan bersamanya di sebelah kiri. Mobil-mobil dan pengendara sepeda motor melintas di jalan. Suara sulih Sutoro melanjutkan, “Kalo sore hari saya berjualan kerupuk.”
Muncul gambar mundur Sutoro memijat kaki klien di atas meja pijat warna warni. Suaranya berlanjut, “Keliling karena profesi pijat tidak mencukupi kebutuhan sehari hari.”
Muncul seorang pemijat yang merupakan seorang wanita Indonesia berambut hitam yang diikat ke belakang. Dia memijat kaki seorang wanita kulit putih di atas meja pijat mewah yang menghadap ke laut. Klien tersenyum saat menerima pijatannya.
Muncul gambar close-up seorang pemijat yang sedang memijat kaki klien. Sutoro melanjutkan, “Karena sekarang sudah banyak sekali orang – orang liat pada terjun memijat.”
Muncul Sutoro, “Dan sekarang banyak sekali tempat – tempat pijat yang tempatnya lebih mewah karena dia punya uang.”
Muncul wanita Indonesia yang sedang memijat punggung klien lain di atas meja pijat. Kliennya adalah seorang wanita kulit putih yang mengenakan bikini. Matahari terbenam di atas pepohonan dan sebuah bungalow di latar belakang. Sutoro melanjutkan, “Sehingga profesi pijat dari tunanetra itu tersisih.”
Muncul gambar mundur sebuah pasar yang sibuk di Jakarta dan pengendara sepeda motor yang parkir di dekat kios-kios pasar. Dua gedung tinggi kembar berada di latar belakang. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Maka dengan terpaksa saya beralih profesi.”
Muncul Sutoro berbicara, “Menjadi seniman jalanan itu sebenarnya tantangannya cukup berat.”
Muncul beberapa pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang melewati seorang pengamen, yang buta, di pasar yang sibuk. Pengamen itu, seorang pria Indonesia dengan rambut pendek beruban, memegang tongkat putih. Sebuah mikrofon yang kabelnya melingkari lehernya, dan sebuah speaker diikatkan di dadanya. Pengendara sepeda motor membunyikan klakson dan pejalan kaki berbicara di latar belakang. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Kalo di pasar kenndalanya yaitu yang jelas lalu lalang motor.”
Muncul Sutoro yang berbicara, “Jadi kita harus bener hati hati karena lalu lalang motor itu cukup banyak sekali yang mondar mandir.”
Muncul sang pengamen, yang buta, di pasar yang ramai.
Muncul penjual kerupuk, seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab krem, duduk di pinggir jalan yang ramai dengan banyak kantong kerupuk. Sang penjual makan dari salah satu kantong kerupuk. Seorang gadis Indonesia berambut hitam panjang duduk di sebelah wanita tersebut sementara seorang pengendara sepeda dan pengendara sepeda motor melintas di jalan.
Muncul penjual kerupuk lainnya, seorang wanita Indonesia dengan rambut hitam yang diikat ke belakang, duduk di sisi jalan yang sibuk. Beberapa kantong kerupuk tergantung pada tongkat coklat di depannya, dan beberapa pengendara sepeda motor melintas di jalan. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Kalau jualan kerupuk sekarang tidak hanya tunanetra yang jualan, sekarang orang liat pun jualan.”
Muncul penjual kerupuk kedua yang sedang duduk di pinggir jalan yang ramai di malam hari. Mobil-mobil dan pengendara sepeda motor lalu lalang di jalan. Sulih suara Sutoro berlanjut, “Jadi memang semakin sepi bahkan saya sering buang karena tidak terjual.”
Muncul Sutoro yang berbicara, “Sehingga melempem kerupuk itu akhirnya terbuang.”
Muncul seorang pengamen, seorang pria Indonesia berambut hitam pendek, bernyanyi di mikrofon dari tepi jalan pada malam hari dan memegang tongkat putih. Pengendara sepeda motor melintas di jalan, dan suara-suara lalu lintas menjadi latar belakangnya.
Muncul Eka Setiawan, seorang pria paruh baya Indonesia berambut hitam pendek. Setiawan mengenakan kemeja abu-abu, duduk di depan tembok kuning, dan berbicara kepada kamera dalam Bahasa Indonesia: “Saya Eka Setiawan.”
Muncul Setiawan mengenakan topi sholat putih, headphone kecil putih, dan berbicara melalui pengeras suara di sebuah pertemuan besar. Sebagian besar wanita pada pertemuan tersebut mengenakan jilbab hitam, dan sebagian besar pria berambut hitam pendek. Seorang wanita berambut hitam, dan seorang pria mengenakan topi sholat biru-putih. Semua peserta rapat memakai masker wajah. Sulih suara Setiawan berlanjut, “Saya seorang aktifis tunanetra yang memperjuangkan hak – hak penyandang disabilitas.”
Muncul Setiawan yang berdiri di depan tembok kuning, “Sejak Indonesia meratifikasi UN-CRPD di tahun 2011 dengan Undang – undang 19 tahun 2011 yang kemudian domestisasi Undang – undang penyandang disabilitas, Indonesia menerbitkan undang – undang disabilitas pada tahun 2016.”
Muncul gambar layar teks hitam di layar putih bertuliskan, “PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA | UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYANDANG DISABILITAS,” dalam Bahasa Indonesia.
Muncul Setiawan yang berbicara, “Sampai dengan hari ini kondisi yang ada masih menempatkan penyandang disabilitas menjadi.”
Muncul seorang pengamen, seorang pria Indonesia yang mengenakan topi baseball hitam. Pria itu bernyanyi dengan mikrofon yang kabelnya melingkar di lehernya, dan sebuah speaker yang diikatkan di dadanya. Dia berjalan dari mobil ke mobil di jalan yang sibuk, dan suara lalu lintas menjadi latar belakangnya. Setiawan melanjutkan, “Khususnya tunanetra menjadi yang sulit dalam menjalankan profesinya.”
Muncul Sadiah yang sedang memijat kaki seorang klien di atas kasur abu-abu.
Muncul Setiawan yang berbicara, “Dan kebetulan sebagian besar tunanetra masih berprofesi sebagai juru pijat.”
Muncul Setiawan berbicara, “Di situasi saat ini profesi juru pijat bagi tunanetra kelihatannya sudah bukan sebagai profesi yang menjanjikan.”
Muncul Sutoro memijat kaki klien di atas meja pijat warna-warni.
Muncul gambar mundur dari handuk putih di atas meja pijat mewah di sebuah panti pijat. Lampu-lampu hijau kecil berjajar di salah satu bagian lantai di depan meja pijat.
Muncul Setiawan berbicara, “Profesi juru pijat ini sudah digeluti oleh banyak kalangan non disabilitas yang tentunya kemasannya bisa jauh lebih baik dan dengan modal yang jauh lebih kuat sehingga menempatkan teman – teman disabilitas tunanetra menjadi tersisihkan dalam profesi pijatnya.”
Mucul seorang pengamen, seorang pria Indonesia dengan rambut hitam dengan gaya rambut ditarik ke belakang, bernyanyi di mikrofon di jalan yang sibuk di sebuah pasar. Pejalan kaki dan pengendara sepeda motor melewatinya, dan musik diputar dari pengeras suara.
Muncul seorang wanita Indonesia, mengenakan jilbab krem, berhenti untuk memberikan uang kepada seorang pengamen di pasar yang sibuk. Sang pengamen, seorang pria Indonesia, mengenakan topi biru dan menggunakan tongkat putih. Seorang pengendara sepeda motor melintas di dekat pengamen, dan beberapa orang di pasar mengenakan masker wajah. Sulih suara Setiawan berbicara, “Mau tidak mau teman – teman tunanetra alih profesi.”
Muncul Setiawan yang berbicara, “Saya yakin betul teman – teman tunanetra memahami pekerjaan – pekerjaan yang mereka lakukan ini adalah pekerjaan yang beresiko.”
Muncul seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab coklat dan memegang tongkat putih di jalan yang sibuk. Dia bernyanyi pada mikrofon yang terpasang di lehernya, dan sebuah speaker diikatkan ke dadanya. Sulih suara Setiawan berlanjut, “Tetapi tidaklah banyak pilihan profesi yang bisa dilakukan oleh teman – teman tunanetra. Bahwa perlu terus dilakukan advokasi.”
Muncul Setiawan yang berbicara, “Harapan yang bisa disampaikan kesemua pihak bahwa kesempatan buat teman – teman penyandang disabilitas atau tunanetra sebagai juru pijat memang harus dibuka seluas luasnya.”
Muncul seorang wanita Indonesia yang mengenakan jilbab putih. Dia menghentikan seorang pengamen, seorang pria Indonesia berambut hitam dengan gaya rambut ditarik ke belakang, untuk memasukkan uang ke dalam tasnya di sebuah pasar yang ramai. Musik diputar dari speakernya.
Muncul Setiawan berbicara, “Dan sebetulnya bisa dikelola lebih baik misalnya di dunia pariwisata, dunia perhotelan.”
Muncul gambar udara dari sebuah hotel mewah di Indonesia. Sebuah kolam besar dan pepohonan mengelilingi hotel.
Muncul Setiawan berbicara, “Sehingga tunanetra lebih memiliki peluang yang lebih baik di profesinya sebagai juru pijat.”
Memudar ke teks hitam dengan garis tepi kuning di layar hitam yang bertuliskan, “Copyright – @2022 PPUA Disabilitas. Semua hak cipta dilindungi undang-undang.”
Memudar ke teks hitam dengan garis tepi kuning pada layar hitam yang bertuliskan, “Dibuat dengan dukungan dari Proyek Keadilan Disabilitas dan Dana Hak Disabilitas.” Logo Proyek Keadilan Disabilitas adalah huruf “D” besar berwarna kuning dengan tombol putar hitam di tengahnya untuk menandakan video bercerita, dan tulisan teks putih yang berarti “Proyek Keadilan Disabilitas” di kiri bawah. Logo Disability Rights Fund – kotak putih dengan teks hitam bertuliskan, “Disability Rights Fund” – berada di kanan bawah layar.